LAPORAN
PRAKTIKUM TEKNOLOGI DAN FORMULASI SEDIAAN SEMI SOLID DAN LIQUID
SEDIAAN
EMULSI MINYAK IKAN
Praktikum
ke : 3
Tanggal
Praktikum : 5 Oktober 2016
Kelompok :
V ( FARMASI 2B)
Anggota :
1. Melfa Ristia 31115088
2. Mentari Octaviani 31115089
3. Mira Rohimah 31115090
4. Muhamad Adi Praja 31115091
5. Muhammad Septian R 31115092
6. Nadiya Nurfitriyana 31115093
7. Nia Ratna Dila 31115094
PROGRAM
STUDI S1 FARMASI
STIKkes
BAKTI TUNAS HUSADA TASIKMALAYA
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Prinsip Percobaan : Berdasarkan
pembuatan sediaan emulsi minyak ikan dengan zat tambahannya yaitu CMC-Na
sebagai emulsifier, Gliserin bisa sebagai
stabilisator emulsi, gliserin juga dapat
berfungsi sebagai pengawet, pemanis, dan juga dapat meningkatkan viskositas,
Na-benzoat digunakan sebagai pengawet karena baik untuk penggunaan oral
dan tidak OTT dengan bahan lain, sirupus
simplex sebagai pemanis, essense yellow sebagai perasa, dan aquadest sebagai
pelarut
1.2 Tujuan Praktikum :
Melakukan preformulasi, formulasi, membuat produk jadi dan evaluasi sediaan
emulsi minyak ikan
1.3 Dasar Teori :
Emulsi
adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang
lain, dalam bentuk tetesan kecil. ( Farmakope Indonesia edisi IV tahun 1995 hal
6)
Emulsi adalah
suatu dispersi dimana fase terdispers terdiri dari bulatan-bulatan kecil zat
cair yang terdistribusi ke seluruh pembawa yang tidak bercampur. ( Howard C. Ansel. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi hal 376 ).
Dalam
batasan emulsi, fase terdispers dianggap sebagai fase dalam dan medium dispers sebagai fase luar atau fase kontinu.
Emulsi yang mempunyai fase dalam minyak dan fase luar air disebut emulsi
minyak-alam-air dan biasanya diberi tanda sebagai emulsi “ m/a “. Sebaliknya
emulsi yang mempunyai fase dalam air dan fase luar minyak disebut emulsi
air-dalam-minyak dan dikenal sebagai emulsi “ a/m ”.
Secara
farmasetik, proses emulsifikasi memungkinkan ahli farmasi dapat membuat suatu
preparat yang stabil dan rata dari campuran dua cairan yang saling tidak
bercampur. Untuk emulsi yang diberikan secara oral, tipe emulsi minyak dalam
air memungkinkan pemberian obat yang harus dimakan tersebut mempunyai rasa yang
lebih enak walaupun yang diberikan
sebenarnya minyak yang rasanya tidak enak, dengan menambahkan pemanis dan
memberi rasa pada pembawa air sehingga mudah dimakan dan ditelan sampai ke
lambung.
Berdasarkan
konstituen dan maksud pemakaiannya, emulsi cair dapat digunakan secara
bermacam-macam seperti oral, topikal, atau parenteral; emulsi semisolid digunakan
secara topikal.
Teori-teori
lazim yang menggambarkan cara umum untuk menguraikan cara yang mungkin dimana
dapat menghasilkan emulsi yang stabil, antara lain :
a) Teori
tegangan permukaan
Bila cairan kontak dengan cairan kedua yang tidak
larut dan tidak saling bercampur, kekuatan ( tenaga ) yang menyebabkan
masing-masing cairan menahan pecahnya menjadi partikel-partikel yang lebih
kecil disebut Tegangan Antarmuka.
b) Oriented
wedge theory
Menganggap lapisan monomolekuler
dari zat pengemulsi melingkari suatu tetesan dari fase dalam pada emulsi. Dalam
suatu system yang mengandung dua cairan yang tidak saling bercampur, zat
pengemulsi akan memilih larut dalam salah satu fase dan terikat dengan kuat dan
terbenam dalam fase tersebut dibandingkan dengan fase lainnya. Umumnya suatu
zat pengemulsi yang mempunyai karakteristik hidrofilik lebih besar dari pada
sifat hidrofobik akan memajukan suatu emulsi minyak-dalam-air dan suatu emulsi
air-dalam-minyak sebagai hasil dari penggunaan zat pengemulsi yang lebih
hidrofobik dari pada hidrofilik. Dengan kata lain, fase dimana zat pengemulsi
tersebut lebih larut umumnya akan menjadi fase kontinu atau fase luar dari
emulsi tersebut.
c) Teori plastik
atau teori lapisan antarmuka
Menempatkan zat pengemulsi pada
antarmuka antara minyak dan air, mengelilingi tetesan fase dalam sebagai suatu
lapisan tipis atau film yang diadsorbsi pada permukaan dari tetesan tersebut.
Lapisan tersebut mencegah kontak dan bersatunya fase terdispersi; makin kuat
dan makin lunak lapisan tersebut, akan makin besar dan makin stabil emulsinya.
Pembentukan emulsi minyak-dalam-air atau air-dalam-minyak tergantung pada
derajat kelarutan dari zat pengemulsi dalam kedua fase tersebut, zat yang larut
dalam air akan merangsang terbentuknya emulsi minyak-dalam-air dan zat
pengemulsi yang larut minyak sebaliknya.
Umumnya
untuk membuat suatu emulsi yang stabil, perlu fase ketiga atau bagian ketiga
dari emulsi, yakni: zat pengemulsi (emulgator/emulsifying agent). Suatu pengemulsi berfungsi serta didefinisikan
secara operasional sebagai suatu penstabil bentuk tetesan (bola-bola) dari fase
dalam. Berdasarkan strukturnya, pengemulsi (zat pembasah dan surfaktan) bisa
digambarkan sebagai molekul-molekul yang terdiri dari bagian-bagian hidrofilik
(oleofobik) dan hidrofobik (oleofilik). Karena itu gugus senyawa-senyawa ini
seringkali disebut amfifilik (yakni
menyukai air dan minyak).
Zat
pengemulsi memudahkan pembentukan emulsi dengan tiga mekanisme:
1. Mengurangi
tegangan antarmuka-stabilitas termodinamis.
2. Pembentukan
suatu lapisan antarmuka yang kaku-pembatas mekanik untuk penggabungan.
3. Pembentukan
lapisan listrik rangkap-penghalang elektrik untuk mendekati partikel-partikel.
Dalam pembuatan emulsi, dapat digunakan 2 ( dua ) macam emulgator yaitu
emulgator alam dan emulgator system HLB.
Pada
system HLB, umumnya masing-masing zat pengemulsi mempunyai suatu bagian
hidrofilik dan suatu bagian lipofilik dengan salah satu diantaranya lebih atau
kurang dominan dalam mempengaruhi dengan cara yang telah diuraikan untuk
membentuk tipe emulsi. Suatu metode telah dipikirkan dimana zat pengemulsi dan
zat aktif permukaan, dapat digolongkan susunan kimianya sebagai keseimbangan
hidrofil-lipofil atau HLB-nya. Dengan metode ini, tiap zat mempunyai harga HLB
atau angka yang menunjukkan polaritas dari zat tersebut.
Umumnya
zat aktif permukaan itu mempunyai harga HLB yang ditetapkan 3 sampai 6, yang
menghasilkan emulsi air dalam minyak, sedangkan zat-zat yang mempunyai harga
HLB antara 8 sampai 18 menghasilkan emulsi minyak dalam air. Dalam suatu sistem
HLB, harga HLB juga ditetapkan untuk minyak-minyak dari zat-zat yang seperti
minyak. Dengan menggunakan dasar HLB dalam penyimpanan suatu emulsi, dapat
dipilih zat pengemulsi yang mempunyai harga HLB sama atau hampir sama sebagai
fase minyak dari emulsi yang dimaksud. ( Howard C. Ansel. Pengantar Bentuk
Sediaan Farmasi hal 376 – 382 ).
Bahan-bahan
yang diperlukan ditambahkan dalam pembuatan emulsi, antara lain :
a) Bahan
pengemulsi sebagai emulgator
Untuk mencegah koalesensi sehingga tetesan besar
menjadi tetesan kecil.
b) Bahan
pengemulsi sebagai surfaktan
Untuk mengurangi tegangan
permukaan antara fase eksternal sehingga proses emulsifikasi dapat
ditingkatkan.
c) Pengental
Untuk mempertinggi kestabilan emulsi
d) Pengawet
Ditambahkan untuk semua jenis emulsi terutama emulsi
minyak dalam air karena kontaminan fase minyak dan fase air mudah terjadi.
e) Zat-zat
tambahan
Pemanis, pewarna, pewangi.
Ketidakstabilan emulsi yang dapat terjadi, antara lain
:
a) Flokulasi
dan Creaming
Pemisahan emulsi menjadi beberapa
lapis cairan, masing-masing lapisan mengandung fase terdispersi yang berbeda.
b) Cracking dan
Breaking
Merupakan koalesensi dan pecahnya tipe emulsi dan bersifat
irreversible.
c) Inversi fasa
Perubahan yang terjadi tiba-tiba dari tipe emulsi M/A
menjadi emulsi A/M atau sebaliknya.
d) Demulsifikasi
Proses pemisahan sempurna dari suatu tipe emulsi ke
dalam masing-masing komponen cair.
Emulsi bisa
disiapkan dengan beberapa cara, tergantung pada sifat komponen emulsi dan
perlengkapan yang tersedia untuk digunakan. Dalam ukuran kecil preparat emulsi
yang dibuat baru, dapat dibuat dengan tiga metode yang umum digunakan oleh ahli
farmasi di apotek. Ketiga metode tersebut adalah:
1. Metode gom kering atau metode kontinental
Zat pengemulsi (biasanya gom) dicampur dengan minyak
sebelum penambahan air.
2. Metode Inggris atau metode gom basah
Zat pengemulsi ditambahkan ke air (di mana zat
pengemulsi tersebut larut) agar membentuk suatu mucilago, kemudian
perlahan-lahan minyak dicampurkan untuk membentuk emulsi.
3. Metode botol atau metode botol Forbes
Digunakan untuk minyak menguap dan minyak-minyak yang
kurang kental dan merupakan suatu variasi dari metode gom kering.
Kestabilan
termodinamik emulsi berbeda dari kestabilan seperti didefinisikan oleh pembuat
formula atau pemakai berdasarkan pertimbangan subjektif secara menyeluruh.
Kestabilan yang dapat diterima dalam bentuk sediaan farmasi tidak membutuhkan
kestabilan termodinamika. Jika suatu emulsi membentuk krim ke atas (naik ke
atas) atau membentuk krim ke bawah (endapan), emulsi bisa tetap dapat diterima
secara farmasetik selama emulsi tersebut dapat dibentuk kembali dengan
pengocokan biasa.
Untuk menentukan tipe emulsi dapat dilakukan dengan
beberapa cara :
- Metode zat warna
- Sudan III
Merupakan zat warna yang larut dalam minyak, tetapi
tidak larut dalam air jika ke dalam larutan ditambahkan sudan III, setelah
diaduk warna merah menjadi semakin jelas menunjukan bahwa emulsi adalah tipe
a/m, tetapi jika warna merah suram semakin tidak tampak menunjukkan emulsinya
adalah m/a.
- Metilen blue
Merupakan
zat warna yang larut dalam air tetapi tidak larut dalam minyak. Jika zat ini diteteskan
pada emulsi berwarna seragam maka air merupakan fase luar dan emulsi ini
bertipe m/a.
- Metode electrical conductivity
Air dapat menghantarkan arus listrik sedangkan minyak
tidak. Alatnya terdiri dari kawat dengan 2 elektrode yang dicelupkan dalam
emulsi dan dihubungkan dengan lampu neon. Jika lampu menyala dalam air maka
merupakan medium pendipers dan emulsinya merupakan tipe m/a. Bila lampu tidak
menyala maka minyak merupakan medium pendispers dan emulsinya adalah tipe a/m.
- Metode pengenceran fase
Jika ke dalam emulsi ditambahkan sedikit air maka
setelah pengocokan dan pengadukan diperoleh kembali emulsi yang homogen
sehingga emulsinya adalah tipe m/a. jika emulsi dicampur minyak maka akan menyebabkan pecahnya emulsi.
Pada emulsi a/m akan diperoleh sebaliknya.
- Fluoresensi
Karena minyak berfluoresensi seluruhnya dan emulsinya
m/a menunjukkan pola titik-titik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
PREFORMULASI
A.
Zat Aktif
1) Minyak
Ikan (FI Edisi III hal 457)
·
Pemerian : cairan kuning pucat, bau khas, agak manis,
tidak tengik, rasa khas
·
Kelarutan : sukar blarut dalam etanol (95%) P; mudah
larut dalam kloroform P; dalam eter P dan dalam eter p
·
Titik lebur :
·
Pka/pKb :
·
pH larutan :
·
Stabilitas : dalam wadah tertutup baik, terisi
penuh, terlindung dari cahaya
·
OTT :
·
Polimorfisme :
B.
Zat Tambahan
1) CMC-Na : Burm Selulosa (arboxymethylcellulose
sodium)
·
Pemerian :serbuk atau granul putih sampai krem,
sifat higroskopis
·
Kelarutan :mudah terdispersi dalam air membentuk
larutan folekda tidak larut dalam etanol, eter dan pelarut organik lain.
·
Titik lebur :
·
pKa/pKb :
·
pH larutan : 6-10
·
Stabilitas : larutan stabil pada pH 2-10,
pengendapan terjadi pada pH dibawah 2. Viskositas dan stabilitas maksimum pada
pH 7,9. Bisa distrelisasi dalam kondisi kering pada suhu 160 pada 1 jam tapi
terjadi pengurangan viskositas.
·
OTT : inkompitibel dengan larutan
asam kuat dan dengan larutan asam besi dan beberapa logam seperti alumunium.
Contoh merkuri, zink dan gom xanthan pengendapan terjadi pada pH dibawah 2 dan
pada saat pencampuran etanol 95% membentuk kompleks dengan ikatan gelatin dan
pektin.
·
Polimorfisme :
·
Pustaka : FI edisi V hal 175
Handbook of pharmaceutical exipent VI:
120
2) Gliserin
( FI edisi III hal 271)
·
Pemerian : cairan seperti sirop; jerih, tidak
berwarna; tidak berbau; manis diikuti rasa hangat, higroskopis, jika disimpan
beberapa lama pada suhu rendah dapat memadat membentuk masa hablur tidak
berwarna yang tidak melebur hingga suhu mencapai lebih kurang 20º C
·
Kelarutan : dapat campur dengan air, dan dengan
etanol (95%) p; praktis tidak larut dalam kloroform p, dalam eter p, dan dalam
minyak lemak
·
Titik lebur : 18,2ºC
·
pKa/pKb : larutan 10% b/v bereaksi netral
terhadap larutan lakmus p
·
pH larutan : netral (7)
·
Stabilitas : stabil dalam penyimpanan dalam wadah
tertutup baik
·
OTT :
·
Polimorfisme :
3)
Natrium Benzoat (FI IV hal. 584, Handbook of Pharmaceutical Excipient Edisi 6 hal.
627)
·
Synonym : Sodium benzoat, Natrii
benzoat
·
Pemerian : Granul atau serbuk
hablur, putih, tidak berbau, stabil di udara.
·
Kelarutan : Mudah larut
dalam air, agak sukar larut dalam etanol, lebih mudah larut dalam etanol 90%.
·
Stabilitas : Sebaiknya disimpan
dalam wadah tertutup rapat, sejuk dan kering.
·
OTT : Tidak bercampur dengan komponen
kuartener, gelatin, garam ferri, garam kalsium, dan garam logam berat termasuk
perak, timah, dan merkuri.
·
Konsentrasi : 0,02-0,5 %
·
Fungsi : Pengawet/antimikroba.
·
Wadah : Wadah tertutup rapat, di tempat kering & sejuk.
4) Sirupus
simplex (Farmakope Indonesia III hal 567)
·
Warna
: tidak berwarna
·
Rasa
: manis
·
Bau
: tidak berbau
·
Pemeriaan
:
cairan jernih, tidak berwarna
·
Polimorfisme
: -
·
Ukuran
partikel : -
·
Kelarutan
: larut dalam air, mudah larut dalam air mendidih,
sukar
larut dalam eter
·
Titik
lebur
: 1800
·
pKa /
pKb : -
·
Bobot
jenis : 1,587
gram/mol
·
pH
larutan
: -
·
Stabilitas
: ditempat sejuk
·
Inkompatibilitas
: -
·
Kegunaan
: sebagai pemanis
5) Sunset
Yellow
·
Pemerian : serbuk kunig kemerahan
·
Kelarutan :mudah larut dalam air
·
pKa/pKb :
·
pH larutan :
·
OTT : Asam askorbat, gelatin dan
glukosa
·
Stabilitas : wadah tertutup rapat
·
Polimorfisme :
9) Aquadest
(FI edisi III: 96)
·
Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna, tidak
berbau, tidak mempunyai rasa
·
Kelarutan : dapat bercampur dengan pelarut polar
·
Stabilitas : dalam keadaan fisik (es, cairan, gas)
·
OTT :bereaksi dengan obat-obatan
dan eksipien lain yang rentan terhadap hidrolisis. Bereaksi keras dengan
alkali.
·
Polimorfisme :
BAB III
METODE
3.1 .ALAT DAN BAHAN
A. Alat
1. Gelas
ukur
2. Botol
sirup
3. Pipet
4. Gelas
kimia
5. Corong
6. Batang
pengaduk
B. Bahan
1. Minyak
Ikan
2. CMC-Na
3. Gliserin
4. Na
Benzoat
5. Sirupus
simplex
6. Essense
yellow
7. Aquadest
3.2 Prosedur Kerja
No
|
Tahap Pengerjaan
|
Pelaksana
|
Paraf
|
1
|
Menyiapkan alat dan bahan
|
1. Muhamad Adi Praja
|
1
|
2
|
setarakan timbangan, timbang bahan yang akan digunakan
|
2. Mentrari Oktavianti
|
2
|
3
|
mengkalibrasi botol 50 Ml
|
3. Melfa Ristia
|
3
|
4
|
panaskan aquadest untuk melarutkan nipagin dan CMC Na
|
4. Nia Ratna Dilla
|
4
|
5
|
Masukan air panas kedalam mortir kemudian masukan CMC- Na diamkan sampai
megembang, gerus kuat hingga terbentuk mucilago
|
5. Mira Rohimah
|
5
|
6
|
masukan sedikit demi sedikit minyak ikan kedalam mortir
|
6. Nadiya Nurfitriana
|
6
|
7
|
larutkan natrium benzoat kemudian masukan dalam mortir, gerus homogen
|
7. Mira Rohimah
|
7
|
8
|
masukan gliserin lalu ad homogen
|
8. Muhamad Adipraja
|
8
|
9
|
masukan sirupus simplex lalu ad homogen dan tambahkan essense yellow
|
9. Mentari Oktavianti
|
9
|
10
|
ad aquadest sampai 250 ml
|
10. Muhammad Septian R
|
10
|
11
|
masukan kedalam 2 botol yang telah dikalibrasi
|
11. Melfa Ristia
|
11
|
12
|
kemas sediaan dalam dus obat
|
12. Nia Ratna Dilla
|
12
|
3.3 FORMULA USULAN
-
3.4. EVALUASI SEDIAAN
Prosedur
|
Hasil Pengamatan
|
1.
Organoleptik
·
Warna
·
Bau
·
Rasa
|
Hari
Ke 1 : hijau
Hari
Ke 2 : hijau
Hari
Ke 3 : hijau
Hari
Ke 4 : hijau
Hari
Ke 5 : hijau
Hari
Ke 6 : hijau
Hari
Ke 7 : hijau
Hari
Ke 1 : aroma apel
Hari
Ke 2 : aroma apel
Hari
Ke 3 : aroma apel
Hari
Ke 4 : aroma apel
Hari
Ke 5 : aroma apel
Hari
Ke 6 : aroma apel
Hari
Ke 7 : aroma apel
Hari
Ke 1 : apel
Hari
Ke 2 : apel
Hari
Ke 3 : apel
Hari
Ke 4 : apel
Hari
Ke 5 : apel
Hari
Ke 6 : apel
Hari
Ke 7 : apel
|
pH 2. PH
larutan
Celupkan
indikator universal kedalam sirup diphenhidramin HCl yang telah dibuat
|
7 (netral)
|
3. Viskositas
Prosedur
:
·
Masukan
larutan dalam gelas kimia
·
Celupkan
spindel no 2
·
Uji
dilakukan dengan menggunakan alat viskositas brookfield
|
·
Rpm
10
Cp :
4160
% :
41,6
·
Rpm
20
Cp :
3645
% :
72,9
·
Rpm
30
Cp :
3317
% :
99,5
·
Rpm
40
Cp :
% :
·
Rpm
50 :
Cp :
error
% :
error
|
4. Bobot Jenis
Prosedur
:
·
Timbang piknometer kosong.
·
Isi dengan aquadest sampai
air meluap ke atas
·
Lalu timbang kembali
piknometer yang telah diisi aquadest
·
Buang air di dalam
piknometer, ganti dengan sirup yang telah dibuat sampai sirup meluap ke atas
·
Timbang kembali piknometer
yang telah diisi dirup
·
Hitung bobot jenis
|
Pikno
kosong : 12,98 g
Pikno
+ air : 24,55 g
Pikno
+ sediaan : 24,98 g
ρ air : 1
ρ sediaan : 1,037 g/ml
|
5. Volume
terpindahkan
·
Masukan sirup ke dalam gelas
ukur 50 ml
·
Masukan ke dalam botol
sirup
·
Keluarkan lagi ke dalam
gelas ukur 50 ml
·
Lihat perubahan volume
|
Botol 1 : 46/50 x 100% = 92%
Botol 2 : 49/50 x 100% = 98%
|
6.
Homogenitas
Lihat
pada sediaan apakah ada granul atau tidak, jika ada granul berarti tidak
homogen
|
Homogen
|
7.
Kecepatan Redispensi
Kocok
sediaan kemudian hitunglah waktu sediaan terdispersi kembali
|
3.5 VOLUME
SEDIMENTASI
No
|
Menit Ke-
|
Sediaan
|
|
Vo
|
Vu
|
||
1
|
10 menit
|
50 ml
|
50 ml
|
2
|
20 menit
|
50 ml
|
50 ml
|
3
|
30 menit
|
50 ml
|
50 ml
|
4
|
60 menit
|
50 ml
|
50 ml
|
5
|
Hari ke-1
|
50 ml
|
50 ml
|
6
|
Hari Ke-2
|
50 ml
|
50 ml
|
7
|
Hari Ke-3
|
50 ml
|
49 ml
|
8
|
Hari Ke-4
|
50 ml
|
49 ml
|
9
|
Hari Ke-5
|
50 ml
|
49 ml
|
10
|
Hari Ke-6
|
50 ml
|
48 ml
|
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dibuat sediaan obat dalam
bentuk emulsi minyak ikan. Emulsi sendiri ialah sistem dua fase yang salah satu
cairannya terdispersi dalam cairan pembawa yang membentuk butiran-butiran kecil
dan distabilkan dengan zat pengemulsi/surfaktan yang cocok. Minyak ikan
mengandung asam lemak omega (EPA, DHA) yang bekerja anti tumor karena mendesak
arachidonat dari membran sel dan membentuk prostaglandin baik (dari tipe E1 dan
E3) tanpa efek stimulasi tumor. Minyak ikan berkhasiat melindungi pasien
jantung terhadap mati mendadak akibat infark jantung sekunder, DHA melindungi
terhadap diabetes, menurut perkiraan DHA membuat membran sel lebih cair
sehingga menjadi peka bagi daya kerja insulin dan efeknya. Insulin bekerja
lebih efektif dan nilai glukosa menurun. Asam omega 3 memiliki sejumlah khasiat
yaitu antiradang yang dapat menstimulasi pertumbuhan tumor, anti trombosit,
memperbaiki efek insulin, menurunkan trigliserida darah, memperbaiki
perkembangan saraf otak dan fungsinya terutama janin dan bayi. Pada pembuatan
emulsi minyak ikan ini menggunakan bahan-bahan diantaranya Minyak
Ikan, CMC-Na, Gliserin, Na Benzoat, Sirupus simplex, Essense yellow Aquadest.
Pada pembuatan sediaan emulsi dilakukan uji evaluasi
meliputi uji organoleptik seperti menguji warna, bau dan rasa; uji keasaman;
bobot jenis; viskositas; dan uji sedimentasi pada emulsi. Tipe emulsi yang
dihasilkan adalah tipe emulsi minyak dalam air (M/A). Karena pada saat sediaan
ditetesi oleh metilen blue menghasilkan warna biru di luar dan terdapat
butiran-butiran minyak. Adapaun hasil evaluasi dari kelompok kami yaitu :
-
Uji organoleptik
Warna : Hari Ke 1 : hijau
Hari
Ke 2 : hijau
Hari
Ke 3 : hijau
Hari
Ke 4 : hijau
Hari
Ke 5 : hijau
Hari
Ke 6 : hijau
Hari
Ke 7 : hijau
Bau : Hari
Ke 1 : aroma apel
Hari
Ke 2 : aroma apel
Hari
Ke 3 : aroma apel
Hari
Ke 4 : aroma apel
Hari
Ke 5 : aroma apel
Hari
Ke 6 : aroma apel
Hari
Ke 7 : aroma apel
Rasa : Hari Ke 1 : pahit
Hari
Ke 2 : pahit
Hari
Ke 3 : pahit
Hari
Ke 4 : pahit
Hari
Ke 5 : pahit
Hari
Ke 6 : pahit
Hari
Ke 7 : pahit
-
Uji keasaman (pH
larutan)
pH 7
(netral)
-
Uji viskositas
Rpm 10
: Cp :
4160
% :
41,6
Rpm 20 : Cp :
3645
% :
72,9
Rpm 30 : Cp :
3317
% :
99,5
Rpm 40 : Cp :
%
:
Rpm 50
: Cp :
error
% :
error
-
Uji bobot jenis
Pikno
kosong : 12,98 g
Pikno + air :
24,55 g
Pikno + sediaan
: 24,98 g
ρ air : 1
ρ sediaan :
1,037 g/ml
-
Uji volume
terpindahkan
Botol 1 : 46/50
x 100% = 92%
Botol 2 : 49/50 x 100% = 98%
-
Uji volume
sedimentasi
No
|
Menit Ke-
|
Sediaan
|
|
Vo
|
Vu
|
||
1
|
10 menit
|
50 ml
|
50 ml
|
2
|
20 menit
|
50 ml
|
50 ml
|
3
|
30 menit
|
50 ml
|
50 ml
|
4
|
60 menit
|
50 ml
|
50 ml
|
5
|
Hari ke-1
|
50 ml
|
50 ml
|
6
|
Hari Ke-2
|
50 ml
|
50 ml
|
7
|
Hari Ke-3
|
50 ml
|
49 ml
|
8
|
Hari Ke-4
|
50 ml
|
49 ml
|
9
|
Hari Ke-5
|
50 ml
|
49 ml
|
10
|
Hari Ke-6
|
50 ml
|
48 ml
|
Uji evaluasi yang di dapat dari kelompok 4 yaitu :
-
Uji organoleptik
Warna : Hari
Ke 1 : hijau muda
Hari
Ke 2 : hijau muda
Hari
Ke 3 : hijau muda
Hari
Ke 4 : hijau muda
Hari
Ke 5 : hijau muda
Hari
Ke 6 : hijau muda
Hari
Ke 7 : hijau muda
Bau : Hari Ke 1 : apel
Hari
Ke 2 : apel
Hari
Ke 3 : apel
Hari
Ke 4 : apel
Hari
Ke 5 : apel
Hari
Ke 6 : apel
Hari
Ke 7 : apel
Rasa : Hari Ke 1 : pahit
Hari
Ke 2 : pahit
Hari
Ke 3 : pahit
Hari
Ke 4 : pahit
Hari
Ke 5 : pahit
Hari
Ke 6 : pahit
Hari
Ke 7 : pahit
-
Uji keasaman (pH
larutan)
pH
6
-
Uji viskositas
Rpm 10
: Cp :
860
% :
8,6
Rpm 20 : Cp :
680
% :
13,6
Rpm 30 : Cp :
566
% :
17,0
Rpm 40 : Cp :
%
:
Rpm 50
: Cp :
488
% :
24,4
-
Uji bobot jenis
Pikno
kosong : 10,89 g
Pikno + air :
21,33 g
Pikno + sediaan
: 15,76 g
ρ air : 10,44 g
ρ sediaan : 0,448 g/ml
-
Uji volume
terpindahkan
Botol 1 : 98%
Botol 2 : 98%
-
Uji sedimentasi
No
|
Menit Ke-
|
Sediaan
|
|
Vo
|
Vu
|
||
1
|
10 menit
|
50 ml
|
50 ml
|
2
|
20 menit
|
50 ml
|
50 ml
|
3
|
30 menit
|
50 ml
|
50 ml
|
4
|
60 menit
|
50 ml
|
50 ml
|
5
|
Hari ke-1
|
50 ml
|
50 ml
|
6
|
Hari Ke-2
|
50 ml
|
46 ml
|
7
|
Hari Ke-3
|
50 ml
|
40 ml
|
8
|
Hari Ke-4
|
50 ml
|
36 ml
|
9
|
Hari Ke-5
|
50 ml
|
32 ml
|
10
|
Hari Ke-6
|
50 ml
|
32 ml
|
Uji evaluasi yang di dapat dari kelompok 1 yaitu :
-
Uji organoleptik
Warna : Hari Ke 1 : hijau
Hari
Ke 2 : hijau
Hari
Ke 3 : hijau
Hari
Ke 4 : hijau
Hari
Ke 5 : hijau
Hari
Ke 6 : hijau
Hari
Ke 7 : hijau
Bau : Hari
Ke 1 : minyak ikan
Hari
Ke 2 : minyak ikan
Hari
Ke 3 : minyak ikan
Hari
Ke 4 : minyak ikan
Hari
Ke 5 : minyak ikan
Hari
Ke 6 : minyak ikan
Hari
Ke 7 : minyak ikan
Rasa : Hari Ke 1 : apel
Hari
Ke 2 : apel
Hari
Ke 3 : apel
Hari
Ke 4 : apel
Hari
Ke 5 : apel
Hari
Ke 6 : apel
Hari
Ke 7 : apel
-
Uji keasaman (pH
larutan)
pH 6
-
Uji viskositas
Rpm 10
: Cp :
80
% :
0,8
Rpm 20 : Cp :
60
% :
1,4
Rpm 30 : Cp :
46,7
% :
1,2
Rpm 40 : Cp :
%
:
Rpm 50
: Cp :
52
% :
2,5
-
Uji bobot jenis
Pikno
kosong : 14,56 g
Pikno + air :
24,49 g
Pikno + sediaan
: g
ρ air : 9,93
ρ sediaan :
1,0181 g/ml
-
Uji volume
terpindahkan
Botol 1 : 49/50
x 100% = 98%
Botol 2 : 49/50 x 100% = 98%
-
Uji volume
sedimentasi
No
|
Menit Ke-
|
Sediaan
|
|
Vo
|
Vu
|
||
1
|
10 menit
|
50 ml
|
50 ml
|
2
|
20 menit
|
50 ml
|
50 ml
|
3
|
30 menit
|
50 ml
|
50 ml
|
4
|
60 menit
|
50 ml
|
50 ml
|
5
|
Hari ke-1
|
50 ml
|
49 ml
|
6
|
Hari Ke-2
|
50 ml
|
44 ml
|
7
|
Hari Ke-3
|
50 ml
|
39 ml
|
8
|
Hari Ke-4
|
50 ml
|
36 ml
|
9
|
Hari Ke-5
|
50 ml
|
30 ml
|
10
|
Hari Ke-6
|
50 ml
|
28 ml
|
Uji evaluasi yang di dapat dari kelompok 8 yaitu :
-
Uji organoleptik
Warna : Hari Ke 1 : hijau
Hari
Ke 2 : hijau
Hari
Ke 3 : hijau
Hari
Ke 4 : hijau
Hari
Ke 5 : hijau
Hari
Ke 6 : hijau
Hari
Ke 7 : hijau
Bau : Hari
Ke 1 : minyak ikan
Hari
Ke 2 : minyak ikan
Hari
Ke 3 : minyak ikan
Hari
Ke 4 : minyak ikan
Hari
Ke 5 : minyak ikan
Hari
Ke 6 : minyak ikan
Hari
Ke 7 : minyak ikan
Rasa : Hari Ke 1 : apel
Hari
Ke 2 : apel
Hari
Ke 3 : apel
Hari
Ke 4 : apel
Hari
Ke 5 : apel
Hari
Ke 6 : apel
Hari
Ke 7 : apel
-
Uji keasaman (pH
larutan)
pH 6
-
Uji viskositas
Rpm 10
: Cp :
540
% :
5,4
Rpm 20 : Cp :
530
% :
10,6
Rpm 30 : Cp :
516
%
: 15,2
Rpm 40 : Cp :
%
:
Rpm 50
: Cp : 510
% : 25,5
-
Uji bobot jenis
ρ sediaan :
1,064 g/ml
-
Uji volume
terpindahkan
Botol 1 : 49/50
x 100% = 98%
Botol 2 : 49/50 x 100% = 98%
-
Uji volume
sedimentasi
No
|
Menit Ke-
|
Sediaan
|
|
Vo
|
Vu
|
||
1
|
10 menit
|
50 ml
|
50 ml
|
2
|
20 menit
|
50 ml
|
50 ml
|
3
|
30 menit
|
50 ml
|
50 ml
|
4
|
60 menit
|
50 ml
|
50 ml
|
5
|
Hari ke-1
|
50 ml
|
50 ml
|
6
|
Hari Ke-2
|
50 ml
|
50 ml
|
7
|
Hari Ke-3
|
50 ml
|
45 ml
|
8
|
Hari Ke-4
|
50 ml
|
36 ml
|
9
|
Hari Ke-5
|
50 ml
|
34 ml
|
10
|
Hari Ke-6
|
50 ml
|
|
Uji evaluasi yang di dapat dari kelompok 7 yaitu :
-
Uji organoleptik
Warna : Hari Ke 1 : hijau
Hari
Ke 2 : hijau
Hari
Ke 3 : hijau
Hari
Ke 4 : hijau
Hari
Ke 5 : hijau
Hari
Ke 6 : hijau
Hari
Ke 7 : hijau
Bau : Hari
Ke 1 : apel
Hari
Ke 2 : apel
Hari
Ke 3 : apel
Hari
Ke 4 : apel
Hari
Ke 5 : apel
Hari
Ke 6 : apel
Hari
Ke 7 : apel
Rasa : Hari Ke 1 : apel
Hari
Ke 2 : apel
Hari
Ke 3 : apel
Hari
Ke 4 : apel
Hari
Ke 5 : apel
Hari
Ke 6 : apel
Hari
Ke 7 : apel
-
Uji keasaman (pH
larutan)
pH 6
-
Uji viskositas
Rpm 10
: Cp :
160
% :
1,6
Rpm 20 : Cp :
170
% :
3,4
Rpm 30 : Cp :
263,3
% :
6,2
Rpm 40 : Cp :
%
:
Rpm 50
: Cp : 180,0
% : 8,9
-
Uji bobot jenis
ρ sediaan : 1,08
g/ml
-
Uji volume
terpindahkan
Botol 1 : 49/50
x 100% = 98%
Botol 2 : 49/50 x 100% = 98%
-
Uji volume
sedimentasi
Tidak terjadi sedimentasi
Data yang telah diperoleh
dari kelompok kami terdapat perbedaan hasil evaluasi dengan kelompok lainnya,
mulai dari uji keasaman, uji viskositas, uji bobot jenis, volume terpindahkan
dan juga volume sedimentasi, hanya pada uji organoleptik saja yang hampir
memiliki kesamaan dengan hasil evaluasi yang telah dilakukan. Perbedaan
tersebut terjadi karena pada saat pembuatan sediaan emulsi, bahan surfaktan
yang digunakan tidak semuanya sama. Contohnya pada kelompok kami menggunakan
CMC sebagai emulgatornya, sedangakan ada kelompok lain yang menggunakan PGA
sebagai emulgatornya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar