Sabtu, 29 Oktober 2016

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI DAN FORMULASI SEDIAAN SEMI SOLID DAN LIQUID SEDIAAN EMULSI MINYAK IKAN



LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI DAN FORMULASI SEDIAAN SEMI SOLID DAN LIQUID
SEDIAAN EMULSI MINYAK IKAN
Praktikum ke               : 3
Tanggal Praktikum      : 5 Oktober 2016
 
Kelompok       : V ( FARMASI 2B)
Anggota          :
1. Melfa Ristia                        31115088
2. Mentari Octaviani               31115089
3. Mira Rohimah                     31115090
4. Muhamad Adi Praja            31115091
5. Muhammad Septian R        31115092
6. Nadiya Nurfitriyana            31115093
7. Nia Ratna Dila                    31115094
PROGRAM STUDI S1 FARMASI
STIKkes BAKTI TUNAS HUSADA TASIKMALAYA
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Prinsip Percobaan           : Berdasarkan pembuatan sediaan emulsi minyak ikan dengan zat tambahannya yaitu CMC-Na sebagai emulsifier, Gliserin bisa sebagai stabilisator emulsi, gliserin juga dapat berfungsi sebagai pengawet, pemanis, dan juga dapat meningkatkan viskositas, Na-benzoat digunakan sebagai pengawet karena baik untuk  penggunaan oral dan tidak OTT dengan bahan lain, sirupus simplex sebagai pemanis, essense yellow sebagai perasa, dan aquadest sebagai pelarut
1.2 Tujuan Praktikum      : Melakukan preformulasi, formulasi, membuat produk jadi dan evaluasi sediaan emulsi minyak ikan
1.3 Dasar Teori                :
Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. ( Farmakope Indonesia edisi IV tahun 1995 hal 6)
Emulsi adalah suatu dispersi dimana fase terdispers terdiri dari bulatan-bulatan kecil zat cair yang terdistribusi ke seluruh pembawa yang tidak bercampur. ( Howard C. Ansel. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi hal 376 ).
            Dalam batasan emulsi, fase terdispers dianggap sebagai fase dalam dan medium dispers sebagai fase luar atau fase kontinu. Emulsi yang mempunyai fase dalam minyak dan fase luar air disebut emulsi minyak-alam-air dan biasanya diberi tanda sebagai emulsi “ m/a “. Sebaliknya emulsi yang mempunyai fase dalam air dan fase luar minyak disebut emulsi air-dalam-minyak dan dikenal sebagai emulsi “ a/m ”.
            Secara farmasetik, proses emulsifikasi memungkinkan ahli farmasi dapat membuat suatu preparat yang stabil dan rata dari campuran dua cairan yang saling tidak bercampur. Untuk emulsi yang diberikan secara oral, tipe emulsi minyak dalam air memungkinkan pemberian obat yang harus dimakan tersebut mempunyai rasa yang lebih enak walaupun  yang diberikan sebenarnya minyak yang rasanya tidak enak, dengan menambahkan pemanis dan memberi rasa pada pembawa air sehingga mudah dimakan dan ditelan sampai ke lambung.
            Berdasarkan konstituen dan maksud pemakaiannya, emulsi cair dapat digunakan secara bermacam-macam seperti oral, topikal, atau parenteral; emulsi semisolid digunakan secara topikal.
            Teori-teori lazim yang menggambarkan cara umum untuk menguraikan cara yang mungkin dimana dapat menghasilkan emulsi yang stabil, antara lain :
a)      Teori tegangan permukaan
Bila cairan kontak dengan cairan kedua yang tidak larut dan tidak saling bercampur, kekuatan ( tenaga ) yang menyebabkan masing-masing cairan menahan pecahnya menjadi partikel-partikel yang lebih kecil disebut Tegangan Antarmuka.
b)      Oriented wedge theory
Menganggap lapisan monomolekuler dari zat pengemulsi melingkari suatu tetesan dari fase dalam pada emulsi. Dalam suatu system yang mengandung dua cairan yang tidak saling bercampur, zat pengemulsi akan memilih larut dalam salah satu fase dan terikat dengan kuat dan terbenam dalam fase tersebut dibandingkan dengan fase lainnya. Umumnya suatu zat pengemulsi yang mempunyai karakteristik hidrofilik lebih besar dari pada sifat hidrofobik akan memajukan suatu emulsi minyak-dalam-air dan suatu emulsi air-dalam-minyak sebagai hasil dari penggunaan zat pengemulsi yang lebih hidrofobik dari pada hidrofilik. Dengan kata lain, fase dimana zat pengemulsi tersebut lebih larut umumnya akan menjadi fase kontinu atau fase luar dari emulsi tersebut.
c)      Teori plastik atau teori lapisan antarmuka
Menempatkan zat pengemulsi pada antarmuka antara minyak dan air, mengelilingi tetesan fase dalam sebagai suatu lapisan tipis atau film yang diadsorbsi pada permukaan dari tetesan tersebut. Lapisan tersebut mencegah kontak dan bersatunya fase terdispersi; makin kuat dan makin lunak lapisan tersebut, akan makin besar dan makin stabil emulsinya. Pembentukan emulsi minyak-dalam-air atau air-dalam-minyak tergantung pada derajat kelarutan dari zat pengemulsi dalam kedua fase tersebut, zat yang larut dalam air akan merangsang terbentuknya emulsi minyak-dalam-air dan zat pengemulsi yang larut minyak sebaliknya.
         Umumnya untuk membuat suatu emulsi yang stabil, perlu fase ketiga atau bagian ketiga dari emulsi, yakni: zat pengemulsi (emulgator/emulsifying agent). Suatu pengemulsi berfungsi serta didefinisikan secara operasional sebagai suatu penstabil bentuk tetesan (bola-bola) dari fase dalam. Berdasarkan strukturnya, pengemulsi (zat pembasah dan surfaktan) bisa digambarkan sebagai molekul-molekul yang terdiri dari bagian-bagian hidrofilik (oleofobik) dan hidrofobik (oleofilik). Karena itu gugus senyawa-senyawa ini seringkali disebut amfifilik (yakni menyukai air dan minyak).
Zat pengemulsi memudahkan pembentukan emulsi dengan tiga mekanisme:
1.      Mengurangi tegangan antarmuka-stabilitas termodinamis.
2.      Pembentukan suatu lapisan antarmuka yang kaku-pembatas mekanik untuk penggabungan.
3.      Pembentukan lapisan listrik rangkap-penghalang elektrik untuk mendekati partikel-partikel.
Dalam pembuatan emulsi, dapat digunakan 2 ( dua ) macam emulgator yaitu emulgator alam dan emulgator system HLB.
         Pada system HLB, umumnya masing-masing zat pengemulsi mempunyai suatu bagian hidrofilik dan suatu bagian lipofilik dengan salah satu diantaranya lebih atau kurang dominan dalam mempengaruhi dengan cara yang telah diuraikan untuk membentuk tipe emulsi. Suatu metode telah dipikirkan dimana zat pengemulsi dan zat aktif permukaan, dapat digolongkan susunan kimianya sebagai keseimbangan hidrofil-lipofil atau HLB-nya. Dengan metode ini, tiap zat mempunyai harga HLB atau angka yang menunjukkan polaritas dari zat tersebut.
         Umumnya zat aktif permukaan itu mempunyai harga HLB yang ditetapkan 3 sampai 6, yang menghasilkan emulsi air dalam minyak, sedangkan zat-zat yang mempunyai harga HLB antara 8 sampai 18 menghasilkan emulsi minyak dalam air. Dalam suatu sistem HLB, harga HLB juga ditetapkan untuk minyak-minyak dari zat-zat yang seperti minyak. Dengan menggunakan dasar HLB dalam penyimpanan suatu emulsi, dapat dipilih zat pengemulsi yang mempunyai harga HLB sama atau hampir sama sebagai fase minyak dari emulsi yang dimaksud. ( Howard C. Ansel. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi hal 376 – 382 ).
         Bahan-bahan yang diperlukan ditambahkan dalam pembuatan emulsi, antara lain :
a)      Bahan pengemulsi sebagai emulgator
Untuk mencegah koalesensi sehingga tetesan besar menjadi tetesan kecil.
b)      Bahan pengemulsi sebagai surfaktan
Untuk mengurangi tegangan permukaan antara fase eksternal sehingga proses emulsifikasi dapat ditingkatkan.
c)      Pengental
Untuk mempertinggi kestabilan emulsi
d)     Pengawet
Ditambahkan untuk semua jenis emulsi terutama emulsi minyak dalam air karena kontaminan fase minyak dan fase air mudah terjadi.
e)      Zat-zat tambahan
Pemanis, pewarna, pewangi.
           
Ketidakstabilan emulsi yang dapat terjadi, antara lain :
a)      Flokulasi dan Creaming
Pemisahan emulsi menjadi beberapa lapis cairan, masing-masing lapisan mengandung fase terdispersi yang berbeda.
b)      Cracking dan Breaking
Merupakan koalesensi dan pecahnya tipe emulsi dan bersifat irreversible.
c)      Inversi fasa
Perubahan yang terjadi tiba-tiba dari tipe emulsi M/A menjadi emulsi A/M atau sebaliknya.
d)     Demulsifikasi
Proses pemisahan sempurna dari suatu tipe emulsi ke dalam masing-masing komponen cair.
Emulsi bisa disiapkan dengan beberapa cara, tergantung pada sifat komponen emulsi dan perlengkapan yang tersedia untuk digunakan. Dalam ukuran kecil preparat emulsi yang dibuat baru, dapat dibuat dengan tiga metode yang umum digunakan oleh ahli farmasi di apotek. Ketiga metode tersebut adalah:
1.      Metode gom kering atau metode kontinental
Zat pengemulsi (biasanya gom) dicampur dengan minyak sebelum penambahan air.
2.      Metode Inggris atau metode gom basah
Zat pengemulsi ditambahkan ke air (di mana zat pengemulsi tersebut larut) agar membentuk suatu mucilago, kemudian perlahan-lahan minyak dicampurkan untuk membentuk emulsi.
3.      Metode botol atau metode botol Forbes
Digunakan untuk minyak menguap dan minyak-minyak yang kurang kental dan merupakan suatu variasi dari metode gom kering.
Kestabilan termodinamik emulsi berbeda dari kestabilan seperti didefinisikan oleh pembuat formula atau pemakai berdasarkan pertimbangan subjektif secara menyeluruh. Kestabilan yang dapat diterima dalam bentuk sediaan farmasi tidak membutuhkan kestabilan termodinamika. Jika suatu emulsi membentuk krim ke atas (naik ke atas) atau membentuk krim ke bawah (endapan), emulsi bisa tetap dapat diterima secara farmasetik selama emulsi tersebut dapat dibentuk kembali dengan pengocokan biasa.
Untuk menentukan tipe emulsi dapat dilakukan dengan beberapa cara :
  1. Metode zat warna
-          Sudan III
Merupakan zat warna yang larut dalam minyak, tetapi tidak larut dalam air jika ke dalam larutan ditambahkan sudan III, setelah diaduk warna merah menjadi semakin jelas menunjukan bahwa emulsi adalah tipe a/m, tetapi jika warna merah suram semakin tidak tampak menunjukkan emulsinya adalah m/a.
-          Metilen blue
Merupakan zat warna yang larut dalam air tetapi tidak larut dalam minyak. Jika zat ini diteteskan pada emulsi berwarna seragam maka air merupakan fase luar dan emulsi ini bertipe m/a.
  1. Metode electrical conductivity
Air dapat menghantarkan arus listrik sedangkan minyak tidak. Alatnya terdiri dari kawat dengan 2 elektrode yang dicelupkan dalam emulsi dan dihubungkan dengan lampu neon. Jika lampu menyala dalam air maka merupakan medium pendipers dan emulsinya merupakan tipe m/a. Bila lampu tidak menyala maka minyak merupakan medium pendispers dan emulsinya adalah tipe a/m.
  1. Metode pengenceran fase
Jika ke dalam emulsi ditambahkan sedikit air maka setelah pengocokan dan pengadukan diperoleh kembali emulsi yang homogen sehingga emulsinya adalah tipe m/a. jika emulsi dicampur  minyak maka akan menyebabkan pecahnya emulsi. Pada emulsi a/m akan diperoleh sebaliknya.
  1. Fluoresensi
Karena minyak berfluoresensi seluruhnya dan emulsinya m/a menunjukkan pola titik-titik.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. PREFORMULASI
A.    Zat Aktif

1)   Minyak Ikan (FI Edisi III hal 457)
·         Pemerian       : cairan kuning pucat, bau khas, agak manis, tidak tengik, rasa khas
·         Kelarutan      : sukar blarut dalam etanol (95%) P; mudah larut dalam kloroform P; dalam eter P dan dalam eter p
·         Titik lebur     :
·         Pka/pKb        :
·         pH larutan     :
·         Stabilitas       : dalam wadah tertutup baik, terisi penuh, terlindung dari cahaya
·         OTT              :
·         Polimorfisme :

B.     Zat Tambahan

1)   CMC-Na       : Burm Selulosa (arboxymethylcellulose sodium)

·         Pemerian         :serbuk atau granul putih sampai krem, sifat higroskopis
·         Kelarutan        :mudah terdispersi dalam air membentuk larutan folekda tidak larut dalam etanol, eter dan pelarut organik lain.
·         Titik lebur        :
·         pKa/pKb         :
·         pH larutan       : 6-10
·         Stabilitas         : larutan stabil pada pH 2-10, pengendapan terjadi pada pH dibawah 2. Viskositas dan stabilitas maksimum pada pH 7,9. Bisa distrelisasi dalam kondisi kering pada suhu 160 pada 1 jam tapi terjadi pengurangan viskositas.
·         OTT                 : inkompitibel dengan larutan asam kuat dan dengan larutan asam besi dan beberapa logam seperti alumunium. Contoh merkuri, zink dan gom xanthan pengendapan terjadi pada pH dibawah 2 dan pada saat pencampuran etanol 95% membentuk kompleks dengan ikatan gelatin dan pektin.

·         Polimorfisme   :
·         Pustaka            : FI edisi V hal 175
Handbook of pharmaceutical exipent VI: 120

2)   Gliserin ( FI edisi III hal 271)
·         Pemerian       : cairan seperti sirop; jerih, tidak berwarna; tidak berbau; manis diikuti rasa hangat, higroskopis, jika disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat memadat membentuk masa hablur tidak berwarna yang tidak melebur hingga suhu mencapai lebih kurang 20º C
·         Kelarutan      : dapat campur dengan air, dan dengan etanol (95%) p; praktis tidak larut dalam kloroform p, dalam eter p, dan dalam minyak lemak
·         Titik lebur     : 18,2ºC
·         pKa/pKb       : larutan 10% b/v bereaksi netral terhadap larutan lakmus p
·         pH larutan     : netral (7)
·         Stabilitas       : stabil dalam penyimpanan dalam wadah tertutup baik
·         OTT              :
·         Polimorfisme :

3)   Natrium Benzoat (FI IV hal. 584, Handbook of Pharmaceutical Excipient Edisi 6 hal. 627)
·      Synonym       : Sodium benzoat, Natrii benzoat
·      Pemerian       : Granul atau serbuk hablur, putih, tidak berbau, stabil di udara.
·      Kelarutan                  : Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol, lebih mudah larut dalam etanol 90%.
·      Stabilitas       : Sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup rapat, sejuk dan kering.
·      OTT               : Tidak bercampur dengan komponen kuartener, gelatin, garam ferri, garam kalsium, dan garam logam berat termasuk perak, timah, dan merkuri.
·      Konsentrasi   : 0,02-0,5 %
·      Fungsi           : Pengawet/antimikroba.
·      Wadah           : Wadah tertutup rapat, di tempat kering & sejuk.

4)   Sirupus simplex  (Farmakope Indonesia III hal 567)
·         Warna                    : tidak berwarna
·         Rasa                      : manis
·         Bau                        : tidak berbau
·         Pemeriaan              : cairan jernih, tidak berwarna
·         Polimorfisme         : -
·         Ukuran partikel     : -
·         Kelarutan              : larut dalam air, mudah larut dalam air mendidih,
  sukar larut dalam eter
·         Titik lebur              : 1800
·         pKa / pKb             : -
·         Bobot jenis            : 1,587 gram/mol
·         pH larutan             : -
·         Stabilitas               : ditempat sejuk
·         Inkompatibilitas    : -
·         Kegunaan              : sebagai pemanis
5)   Sunset Yellow

·         Pemerian         : serbuk kunig kemerahan
·         Kelarutan        :mudah larut dalam air
·         pKa/pKb         :
·         pH larutan       :
·         OTT                 : Asam askorbat, gelatin dan glukosa
·         Stabilitas         : wadah tertutup rapat
·         Polimorfisme   :

9)      Aquadest (FI edisi III: 96)

·         Pemerian         : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa
·         Kelarutan        : dapat bercampur dengan pelarut polar
·         Stabilitas         : dalam keadaan fisik (es, cairan, gas)
·         OTT                 :bereaksi dengan obat-obatan dan eksipien lain yang rentan terhadap hidrolisis. Bereaksi keras dengan alkali.
·         Polimorfisme   :










BAB III
METODE
3.1 .ALAT DAN BAHAN
A.    Alat
1.      Gelas ukur
2.      Botol sirup
3.      Pipet
4.      Gelas kimia
5.      Corong
6.      Batang pengaduk

B.     Bahan
1.      Minyak Ikan
2.      CMC-Na
3.      Gliserin
4.      Na Benzoat
5.      Sirupus simplex
6.      Essense yellow
7.      Aquadest

3.2  Prosedur Kerja
No
Tahap Pengerjaan
Pelaksana
Paraf
1
Menyiapkan alat dan bahan
1. Muhamad Adi Praja
1
2
setarakan timbangan, timbang bahan yang akan digunakan
2. Mentrari Oktavianti
2
3
mengkalibrasi botol 50 Ml
3. Melfa Ristia
3
4
panaskan aquadest untuk melarutkan nipagin dan CMC Na
4. Nia Ratna Dilla
4
5
Masukan air panas kedalam mortir kemudian masukan CMC- Na diamkan sampai megembang, gerus kuat hingga terbentuk mucilago
5. Mira Rohimah
5
6
masukan sedikit demi sedikit minyak ikan kedalam mortir
6. Nadiya Nurfitriana
6
7
larutkan natrium benzoat kemudian masukan dalam mortir, gerus homogen
7. Mira Rohimah
7
8
masukan gliserin lalu ad homogen
8. Muhamad Adipraja
8
9
masukan sirupus simplex lalu ad homogen dan tambahkan essense yellow
9. Mentari Oktavianti
9
10
ad aquadest sampai 250 ml
10. Muhammad Septian R
10
11
masukan kedalam 2 botol yang telah dikalibrasi
11. Melfa Ristia
11
12
kemas sediaan dalam dus obat
12. Nia Ratna Dilla
12

3.3  FORMULA USULAN
-

3.4. EVALUASI SEDIAAN
Prosedur
Hasil Pengamatan
1. Organoleptik
·         Warna






·         Bau







·         Rasa

Hari Ke 1 : hijau
Hari Ke 2 : hijau
Hari Ke 3 : hijau
Hari Ke 4 : hijau
Hari Ke 5 : hijau
Hari Ke 6 : hijau
Hari Ke 7 : hijau
Hari Ke 1 : aroma apel
Hari Ke 2 : aroma apel
Hari Ke 3 : aroma apel
Hari Ke 4 : aroma apel
Hari Ke 5 : aroma apel
Hari Ke 6 : aroma apel
Hari Ke 7 : aroma apel

Hari Ke 1 : apel
Hari Ke 2 : apel
Hari Ke 3 : apel
Hari Ke 4 : apel
Hari Ke 5 : apel
Hari Ke 6 : apel
Hari Ke 7 : apel

pH 2. PH larutan
Celupkan indikator universal kedalam sirup diphenhidramin HCl yang telah dibuat
7 (netral)
3. Viskositas
Prosedur :
·         Masukan larutan dalam gelas kimia
·         Celupkan spindel no 2
·         Uji dilakukan dengan menggunakan alat viskositas brookfield



·         Rpm 10
Cp         : 4160
%          : 41,6


·         Rpm 20
Cp         : 3645
%          : 72,9


·         Rpm 30
Cp         : 3317
%          : 99,5

·         Rpm 40
Cp         :
%          :

·         Rpm 50 :
Cp         : error
%          : error


4. Bobot Jenis
Prosedur :
·         Timbang piknometer kosong.
·         Isi dengan aquadest sampai air meluap ke atas
·         Lalu timbang kembali piknometer yang telah diisi aquadest
·         Buang air di dalam piknometer, ganti dengan sirup yang telah dibuat sampai sirup meluap ke atas
·         Timbang kembali piknometer yang telah diisi dirup
·         Hitung bobot jenis

Pikno kosong : 12,98 g
Pikno + air : 24,55 g
Pikno + sediaan : 24,98 g
ρ air : 1
ρ sediaan : 1,037 g/ml
5. Volume terpindahkan
·         Masukan sirup ke dalam gelas ukur 50 ml
·         Masukan ke dalam botol sirup
·         Keluarkan lagi ke dalam gelas ukur 50 ml
·         Lihat perubahan volume
Botol 1 : 46/50 x 100% = 92%
Botol 2 : 49/50 x 100% = 98%
6. Homogenitas
Lihat pada sediaan apakah ada granul atau tidak, jika ada granul berarti tidak homogen
Homogen
7. Kecepatan Redispensi
Kocok sediaan kemudian hitunglah waktu sediaan terdispersi kembali





3.5 VOLUME SEDIMENTASI
No
Menit Ke-
Sediaan
Vo
Vu
1
10 menit
50 ml
 50 ml
2
20 menit
50 ml
 50 ml
3
30 menit
50 ml
 50 ml
4
60 menit
50 ml
 50 ml
5
Hari ke-1
50 ml
 50 ml
6
Hari Ke-2
50 ml
 50 ml
7
Hari Ke-3
50 ml
 49 ml
8
Hari Ke-4
50 ml
 49 ml
9
Hari Ke-5
50 ml
 49 ml
10
Hari Ke-6
50 ml
 48 ml
















BAB IV
PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dibuat sediaan obat dalam bentuk emulsi minyak ikan. Emulsi sendiri ialah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan pembawa yang membentuk butiran-butiran kecil dan distabilkan dengan zat pengemulsi/surfaktan yang cocok. Minyak ikan mengandung asam lemak omega (EPA, DHA) yang bekerja anti tumor karena mendesak arachidonat dari membran sel dan membentuk prostaglandin baik (dari tipe E1 dan E3) tanpa efek stimulasi tumor. Minyak ikan berkhasiat melindungi pasien jantung terhadap mati mendadak akibat infark jantung sekunder, DHA melindungi terhadap diabetes, menurut perkiraan DHA membuat membran sel lebih cair sehingga menjadi peka bagi daya kerja insulin dan efeknya. Insulin bekerja lebih efektif dan nilai glukosa menurun. Asam omega 3 memiliki sejumlah khasiat yaitu antiradang yang dapat menstimulasi pertumbuhan tumor, anti trombosit, memperbaiki efek insulin, menurunkan trigliserida darah, memperbaiki perkembangan saraf otak dan fungsinya terutama janin dan bayi. Pada pembuatan emulsi minyak ikan ini menggunakan bahan-bahan diantaranya Minyak Ikan, CMC-Na, Gliserin, Na Benzoat, Sirupus simplex, Essense yellow Aquadest.
Pada pembuatan sediaan emulsi dilakukan uji evaluasi meliputi uji organoleptik seperti menguji warna, bau dan rasa; uji keasaman; bobot jenis; viskositas; dan uji sedimentasi pada emulsi. Tipe emulsi yang dihasilkan adalah tipe emulsi minyak dalam air (M/A). Karena pada saat sediaan ditetesi oleh metilen blue menghasilkan warna biru di luar dan terdapat butiran-butiran minyak. Adapaun hasil evaluasi dari kelompok kami yaitu :
-          Uji organoleptik
Warna : Hari Ke 1 : hijau
Hari Ke 2 : hijau
Hari Ke 3 : hijau
Hari Ke 4 : hijau
Hari Ke 5 : hijau
Hari Ke 6 : hijau
Hari Ke 7 : hijau
Bau      : Hari Ke 1 : aroma apel
Hari Ke 2 : aroma apel
Hari Ke 3 : aroma apel
Hari Ke 4 : aroma apel
Hari Ke 5 : aroma apel
Hari Ke 6 : aroma apel
Hari Ke 7 : aroma apel
Rasa    : Hari Ke 1 : pahit
Hari Ke 2 : pahit
Hari Ke 3 : pahit
Hari Ke 4 : pahit
Hari Ke 5 : pahit
Hari Ke 6 : pahit
Hari Ke 7 : pahit
-          Uji keasaman (pH larutan)
         pH 7 (netral)
-          Uji viskositas
Rpm 10 : Cp         : 4160
%          : 41,6

Rpm 20 : Cp         : 3645
%          : 72,9

Rpm 30 : Cp         : 3317
%          : 99,5

Rpm 40 : Cp         :
%           :
Rpm 50 : Cp         : error
%          : error
-          Uji bobot jenis
        Pikno kosong : 12,98 g
Pikno + air : 24,55 g
Pikno + sediaan : 24,98 g
ρ air : 1
ρ sediaan : 1,037 g/ml
-          Uji volume terpindahkan
Botol 1 : 46/50 x 100% = 92%
Botol 2 : 49/50 x 100% = 98%
-          Uji volume sedimentasi
No
Menit Ke-
Sediaan
Vo
Vu
1
10 menit
50 ml
 50 ml
2
20 menit
50 ml
 50 ml
3
30 menit
50 ml
 50 ml
4
60 menit
50 ml
 50 ml
5
Hari ke-1
50 ml
 50 ml
6
Hari Ke-2
50 ml
 50 ml
7
Hari Ke-3
50 ml
 49 ml
8
Hari Ke-4
50 ml
 49 ml
9
Hari Ke-5
50 ml
 49 ml
10
Hari Ke-6
50 ml
 48 ml



Uji evaluasi yang di dapat dari kelompok 4 yaitu :
-          Uji organoleptik
Warna :  Hari Ke 1 : hijau muda
Hari Ke 2 : hijau muda
Hari Ke 3 : hijau muda
Hari Ke 4 : hijau muda
Hari Ke 5 : hijau muda
Hari Ke 6 : hijau muda
Hari Ke 7 : hijau muda
Bau     :  Hari Ke 1 : apel
Hari Ke 2 : apel
Hari Ke 3 : apel
Hari Ke 4 : apel
Hari Ke 5 : apel
Hari Ke 6 : apel
Hari Ke 7 : apel
            Rasa    : Hari Ke 1 : pahit
Hari Ke 2 : pahit
Hari Ke 3 : pahit
Hari Ke 4 : pahit
Hari Ke 5 : pahit
Hari Ke 6 : pahit
Hari Ke 7 : pahit
-          Uji keasaman (pH larutan)
         pH 6
-          Uji viskositas
Rpm 10 : Cp         : 860
%          : 8,6

Rpm 20 : Cp         : 680
%          : 13,6

Rpm 30 : Cp         : 566
%          : 17,0

Rpm 40 : Cp         :
%           :
Rpm 50 : Cp         : 488
%          : 24,4
-          Uji bobot jenis
        Pikno kosong : 10,89 g
Pikno + air : 21,33 g
Pikno + sediaan : 15,76 g
ρ air : 10,44 g
ρ sediaan :  0,448 g/ml
-          Uji volume terpindahkan
Botol 1 : 98%
Botol 2 : 98%
-          Uji sedimentasi
No
Menit Ke-
Sediaan
Vo
Vu
1
10 menit
50 ml
 50 ml
2
20 menit
50 ml
 50 ml
3
30 menit
50 ml
 50 ml
4
60 menit
50 ml
 50 ml
5
Hari ke-1
50 ml
 50 ml
6
Hari Ke-2
50 ml
 46 ml
7
Hari Ke-3
50 ml
 40 ml
8
Hari Ke-4
50 ml
 36 ml
9
Hari Ke-5
50 ml
 32 ml
10
Hari Ke-6
50 ml
 32 ml


Uji evaluasi yang di dapat dari kelompok 1 yaitu :
-          Uji organoleptik
Warna : Hari Ke 1 : hijau
Hari Ke 2 : hijau
Hari Ke 3 : hijau
Hari Ke 4 : hijau
Hari Ke 5 : hijau
Hari Ke 6 : hijau
Hari Ke 7 : hijau
Bau     :  Hari Ke 1 : minyak ikan
Hari Ke 2 : minyak ikan
Hari Ke 3 : minyak ikan
Hari Ke 4 : minyak ikan
Hari Ke 5 : minyak ikan
Hari Ke 6 : minyak ikan
Hari Ke 7 : minyak ikan
Rasa    : Hari Ke 1 : apel
Hari Ke 2 : apel
Hari Ke 3 : apel
Hari Ke 4 : apel
Hari Ke 5 : apel
Hari Ke 6 : apel
Hari Ke 7 : apel
-          Uji keasaman (pH larutan)
        pH 6
-          Uji viskositas
Rpm 10 : Cp         : 80
%          : 0,8

Rpm 20 : Cp         : 60
%          : 1,4

Rpm 30 : Cp         : 46,7
%          : 1,2

Rpm 40 : Cp         :
%           :
Rpm 50 : Cp         : 52
%          : 2,5
-          Uji bobot jenis
        Pikno kosong : 14,56 g
Pikno + air : 24,49 g
Pikno + sediaan :  g
ρ air : 9,93
ρ sediaan : 1,0181 g/ml
-          Uji volume terpindahkan
Botol 1 : 49/50 x 100% = 98%
Botol 2 : 49/50 x 100% = 98%
-          Uji volume sedimentasi
No
Menit Ke-
Sediaan
Vo
Vu
1
10 menit
50 ml
 50 ml
2
20 menit
50 ml
 50 ml
3
30 menit
50 ml
 50 ml
4
60 menit
50 ml
 50 ml
5
Hari ke-1
50 ml
 49 ml
6
Hari Ke-2
50 ml
 44 ml
7
Hari Ke-3
50 ml
 39 ml
8
Hari Ke-4
50 ml
 36 ml
9
Hari Ke-5
50 ml
 30 ml
10
Hari Ke-6
50 ml
 28 ml


Uji evaluasi yang di dapat dari kelompok 8 yaitu :
-          Uji organoleptik
Warna : Hari Ke 1 : hijau
Hari Ke 2 : hijau
Hari Ke 3 : hijau
Hari Ke 4 : hijau
Hari Ke 5 : hijau
Hari Ke 6 : hijau
Hari Ke 7 : hijau
Bau      : Hari Ke 1 : minyak ikan
Hari Ke 2 : minyak ikan
Hari Ke 3 : minyak ikan
Hari Ke 4 : minyak ikan
Hari Ke 5 : minyak ikan
Hari Ke 6 : minyak ikan
Hari Ke 7 : minyak ikan
Rasa    : Hari Ke 1 : apel
Hari Ke 2 : apel
Hari Ke 3 : apel
Hari Ke 4 : apel
Hari Ke 5 : apel
Hari Ke 6 : apel
Hari Ke 7 : apel
-          Uji keasaman (pH larutan)
         pH 6
-          Uji viskositas
Rpm 10 : Cp         : 540
%          : 5,4

Rpm 20 : Cp         : 530
%          : 10,6

Rpm 30 : Cp         : 516
%          : 15,2

Rpm 40 : Cp          :
%           :
Rpm 50 : Cp          : 510
%           : 25,5
-          Uji bobot jenis
ρ sediaan : 1,064 g/ml
-          Uji volume terpindahkan
Botol 1 : 49/50 x 100% = 98%
Botol 2 : 49/50 x 100% = 98%
-          Uji volume sedimentasi
No
Menit Ke-
Sediaan
Vo
Vu
1
10 menit
50 ml
 50 ml
2
20 menit
50 ml
 50 ml
3
30 menit
50 ml
 50 ml
4
60 menit
50 ml
 50 ml
5
Hari ke-1
50 ml
 50 ml
6
Hari Ke-2
50 ml
 50 ml
7
Hari Ke-3
50 ml
 45 ml
8
Hari Ke-4
50 ml
 36 ml
9
Hari Ke-5
50 ml
 34 ml
10
Hari Ke-6
50 ml
 


Uji evaluasi yang di dapat dari kelompok 7 yaitu :
-          Uji organoleptik
Warna : Hari Ke 1 : hijau
Hari Ke 2 : hijau
Hari Ke 3 : hijau
Hari Ke 4 : hijau
Hari Ke 5 : hijau
Hari Ke 6 : hijau
Hari Ke 7 : hijau
Bau      : Hari Ke 1 : apel
Hari Ke 2 : apel
Hari Ke 3 : apel
Hari Ke 4 : apel
Hari Ke 5 : apel
Hari Ke 6 : apel
Hari Ke 7 : apel
Rasa    : Hari Ke 1 : apel
Hari Ke 2 : apel
Hari Ke 3 : apel
Hari Ke 4 : apel
Hari Ke 5 : apel
Hari Ke 6 : apel
Hari Ke 7 : apel
-          Uji keasaman (pH larutan)
         pH 6
-          Uji viskositas
Rpm 10 : Cp         : 160
%          : 1,6

Rpm 20 : Cp         : 170
%          : 3,4

Rpm 30 : Cp         : 263,3
%          : 6,2

Rpm 40 : Cp          :
%           :
Rpm 50 : Cp          : 180,0
%           : 8,9
-          Uji bobot jenis
ρ sediaan : 1,08 g/ml
-          Uji volume terpindahkan
Botol 1 : 49/50 x 100% = 98%
Botol 2 : 49/50 x 100% = 98%
-          Uji volume sedimentasi
Tidak terjadi sedimentasi

Data yang telah diperoleh dari kelompok kami terdapat perbedaan hasil evaluasi dengan kelompok lainnya, mulai dari uji keasaman, uji viskositas, uji bobot jenis, volume terpindahkan dan juga volume sedimentasi, hanya pada uji organoleptik saja yang hampir memiliki kesamaan dengan hasil evaluasi yang telah dilakukan. Perbedaan tersebut terjadi karena pada saat pembuatan sediaan emulsi, bahan surfaktan yang digunakan tidak semuanya sama. Contohnya pada kelompok kami menggunakan CMC sebagai emulgatornya, sedangakan ada kelompok lain yang menggunakan PGA sebagai emulgatornya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar