Minggu, 03 Desember 2017

makalah sediaan tablet


CARA CEPAT MEMBUAT DAFTAR ISI SECARA OTOMATIS
     Bisa di ikuti caranya di tutorial channel youtube saya. kunjungi channel saya . terima kasih
Terimakasih telah menonton jangan lupa subscribe yahh


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Sediaan tablet merupakan sediaan yang paling banyak diproduksi dan juga banyak mengalami perkembangan dalam formulasinya. Beberapa keuntungan sediaan tablet adalah sediaan lebih kompak, dosisnya tepat, mudah pengemasannya dan penggunaannya lebih praktis disbanding sediaan yang lain (Lachmandkk., 1994).
Parasetamol memiliki sifat kompresibilitas dan fluiditas yang kurang baik, sehingga menimbulkan kesulitan sewaktu pengempaan. Untuk obat dengan sifat kompaktibilitas yang kurang baik, sehingga untuk dapat dicetak menjadi tablet yang baik, parasetamol memberikan banyak kesulitan dan membutuhkan bahan pengikat yang baik, dalam dosis besar paling tepat jika digunakan metode granulasi basah, karena dengan metode granulasi basah tidak memerlukan banyak bahan tambahan yang menyebabkan bobot terlalu besar, selain itu sifat parasetamol yang tahan terhadap panas dan kelembaban selama proses granulasi.
Selain mengandung zat aktif, dalam pembuatan tablet diperlukan bahan bahan tambahan yaitu bahan pengisi, pengikat, penghancur, pelican dan pewarna. Bahan tambahan memegang peranan penting dalam pembuatan tablet, di antaranya bahan pengikat. Bahan pengikat dimaksudkan untuk menjamin penyatuan bersama dari partikel serbuk dalam sebuah butir granulat. Kompaktibilitas tablet dapat dipengaruhi oleh tekanan kompresi maupun bahan pengikat. Bahan pengikat yang biasa digunakan adalah gula, amilum, gelatin, tragakan, povidon (PVP), gom arab dan zat lain yang sesuai (Voigt, 1984).
Bahan penghancur merupakan salah satu bahan tambahan yang penting dalam pembuatan tablet,bahan penghancur berfungsi melawan aksi bahan pengikat dari tablet dan melawan tekanan pada saat penabletan. Bahan ini akan menghancurkan tablet bila bersentuhan dengan air atau cairan saluran pencernaan. Tablet akan hancur menjadi granul selanjutnya pecah menjadi partikel-partikel halus dan akhirnya obat akan hancur (Gunsel et al, 1970)
Amilum (pati) merupakan bahan penolong yang sering digunakan pada pembuatan tablet. Salah satunya adalah sebagai bahan penghancur. Amilum akan melepaskan kekuatannya dari bahan pengikat dan menyebabkan pembengkakan dari beberapa komponen penyusun sehingga sebagian atau seluruh aksinya membantu hancurnya tablet (Voigts , 1984)

1.2  Maksud dan Tujuan
1.      Memformulasi tablet parasetamol secara granulasi basah dengan menentukan pengaruh jenis pengikat amylum solani terhadap sediaan tablet dengan zat aktif paracetamol.
2.      Menentukan evaluasi tablet yang di buat dengan membandingkan terhadap literatur.












BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Teori
Tabet adalah sediaan padat kompak yang dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau serkuler, kedua pemukaannya rata atau cembung, mengandunng satu jenis obat atau lebih, dengan atau tanpa bahan tambahan. (FI ed III, 1979)
Metode pembuatan tablet :
1.      KempaLangsung (Direct compression)
2.       GranulasiBasah (Wet Granulation)
3.      GranulasiKering (Dry granulation)
Perbedaan dan persamaan pembuatan tablet
Granulasi basah
Granulasi kering
KempaLangsung
Bahanobat + pengisi
Bahanobat + pengisi + serbukpengikatkering
Bahanobat + eksipien
Dicampur
Dicampur
Dicampur
Bahanpengikat/mucilago/solutio
Slugging/kompres
Diayak (basah)
Ditumbuk/miling
Dikeringkan
Diayak
Diayak (kering)
+ bahanpenghancur
+ bahanpenghancur
+ bahanpelicin
+ bahanpelicin
Ditablet
Ditablet
Ditablet
Tabel 2.1 Perbedaan Dan Persamaan Pembuatan Tablet

Granulasi Kering disebut juga slugging, yaitu memproses partikel zat aktif dan eksipien dengan mengempa campuran bahan kering menjadi massa padat yang selanjutnya dipecah lagi untuk menghasilkan partikel yang berukuran lebih besar dari serbuk semula (granul). Prinsip dari metode ini adalah membuat granul secara mekanis, tanpa bantuan bahan pengikat dan pelarut, ikatannya didapat  melalui gaya. Teknik ini yang cukup baik, digunakan untuk zat aktif yang memiliki dosis efektif yang terlalu tinggi untuk dikempa langsung atau zat aktif yang sensitif terhadap pemanasan dan kelembaban (Andayana, 2009).   
Granula adalah gumpalan-gumpalan dari partikel-partikel yang lebih kecil. Umumnya terbentuk tidak merata dan menjadi seperti partikel tunggal yang lebih besar. Ukuran biasanya berkisar antara ayakan no.4-12, walaupun demikian granula dari macam-macam ukuran lubang ayakan mungkin dapat dibuat bergantung pada tujuan pemakaiannya (Ansel, 1989).
Pada proses ini komponen–komponen tablet dikompakan dengan mesin cetak tablet lalu ditekan ke dalam die dan dikompakan dengan punch sehingga diperoleh massa yang disebut slug, prosesnya disebut slugging, pada proses selanjutnya slug kemudian diayak dan diaduk untuk mendapatkan granul yang daya mengalirnya lebih baik dari campuran awal bila slug yang didapat belum memuaskan maka proses diatas dapat diulang. Dalam jumlah besar granulasi kering dapat juga dilakukan pada mesin khusus yang disebut roller compactor yang memiliki kemampuan memuat bahan sekitar 500 kg, roller compactor memakai dua penggiling yang putarannya saling berlawanan satu dengan yang lainnya, dan dengan bantuan tehnik hidrolik pada salah satu penggiling mesin ini mampu menghasilkan tekanan tertentu pada bahan serbuk yang mengalir dintara penggiling (Andayana, 2009).

Metode ini digunakan dalam kondisi-kondisi sebagai berikut :
1.      Kandungan zat aktif dalam tablet tinggi
2.      Zat aktif susah mengalir
3.      Zat aktif sensitif terhadap panas dan lembab
    (Andayana, 2009)
Keuntungan cara granulasi kering adalah:
1.      Peralatan lebih sedikit karena tidak menggunakan larutan pengikat, mesin pengaduk berat dan pengeringan yang memakan waktu
2.      Baik untuk zat aktif yang sensitif terhadap panas dan lembab
3.      Mempercepat waktu hancur karena tidak terikat oleh pengikat
(Andayana, 2009).
Kekurangan cara granulasi kering adalah:
1.      Memerlukan mesin tablet khusus untuk membuat slug
2.       Tidak dapat mendistribusikan zat warna seragam
3.      Proses banyak menghasilkan debu sehingga memungkinkan terjadinya kontaminasi silang
(Andayana, 2009).

2.2  Preformulasi
1)      Zat aktif
a.       Paracetamol (FI III hal 37)
-          Pemerian : hablur atau serbuk hablur putih, tidak berbau; rasa pahit.
-          Kelarutan : larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (96%) P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P; larut dalam larutan alkali hidroksida.
-          Titik lebur : antara 169 sampai 172
-          pKa / pKb : pKa 0.6 pada 25C
-          pH larutan : 5.2 sampai 6.5
-          stabilitas : Peningkatan suhu dapat mempercepat degradasi obat
-          khasiat : Analgetikum , Antipiretikum
2)      Zat Tambahan
a.       Amprotab
-          Pemerian : Tidak berbau dan berasa, serbuk berwarna putih berupa granul kecil berbentuk oval dengan ukuran dan bentuk yang berbeda
-          Kelarutan : Praktis tidak larut dalam etanol dingin (96%) dan air dingin
-          Titik Lebur : 5.5 - 6.5
-          Suhu Lebur : 73C untuk pati jagung
-          Stabilitas : Pati kering dan tanpa pemanasan, stabil jika dilindungi dari kelembaban yang tinggi
-          Kegunaan : Glidan, pengisi tabel dan kapsul, penghancur tablet dan kapsul, pengikat tablet.
b.      Amylum Manihot
-          Pemerian : Serbuk halus; putih; tidak berbau
-          Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dingin dan etanol
-          Kegunaan :Bahan pengikat tablet
c.       Laktosa
-          Pemerian : serbuk hablur; putih; tidak berbau; rasa agak manis
-          Kelarutan : Larut dalam 6 bagian air, larut dalam 1 bagian air mendidih, sukar larut dalam etanol (95%) P; praktis tidak larut dalam kloroform P dan dalam eter P.
-          pKa / pKb : pH larutan 10% b/v 4.0-6.5
-          Stabilitas : Dalam wadah tertutup baik
-           Kegunaan : Zat tambahan
d.      Magnesium Stearat
-          Pemerian : Hablur; sangat halus; putih; berbau khas dan berasa
-          Kelarutan : Praktis tidak larut dalam etanol, eter, dan air. Sedikit larut dalam benzene hangat dan etanol (95%) P hangat
-          Titik Leleh : 88.5C
-          Stabilitas : Stabil
-          Polimorfisme : Trihidrat, bentuk asikular dan dihidrat, bentuk lamellar
-          Kegunaan : Lubrikan untuk tablet dan kapsul
e.       Talcum
-          Pemerian : Serbuk sangat halus; putih sampai putih abu-abu; tidak berbau langsung melekat kulit, lembut disentuh
-          Kelarutan : Praktis tidak larut dalam larutan asam dan alkali, larutan organic dan air
-          pH : 6.5-10 untuk larutan disperse 20% b/v
-          Stabilitas : Stabil dapat disterilisasi dengan pemanasan pada 160C selama tidak lebih dari 1 jam
-          Kegunaan : Anti caking agent, glikan, pengisi tablet, lubrikan tablet.


















BAB III
METODE
3.1  Metode
1.      Metode Penambahan Kering
Pengikat dicampur serbuk ( zat aktif dan eksipien lain) lalu ditambahkan pelarut pengikat (air, etanol, isopropil alkohol, atau uap air panas).
Keuntugan               : Proses cepat dan tidak ada resiko massa granul terlalu  basah karena pelarut pengikat ditambahkan sedikit demi sedikit.
Kerugian                  : Diperlukan pelarut pengikat yang lebih banyak karena pengikat akan lebih efektif jika digunakan dalam bentuk larutannya.
2.      Metode Penambahan Basah
Dibuat larutan pengikat terlebih dahulu dengan cara melarutkan pengikat dalam pelarut, lalu larutan pengikat ditambahkan kedalam campuran serbuk ( zat aktif dan eksipien lain).
Keuntungan              : Daya ikat akan lebih kuat sehingga diperlukan bahan pengikat dalam jumlah yang sedikit.
Kerugian                  : Semua larutan harus dimasukan kedalam massa granul agar persentase pengikat yang digunakan sesuai. Jika jumlah terlalu banyak maka dihasilkan massa lembek. Antisipasi dari masalah ini adalah perlu dilakukan orientasi terlebih dahulu.



3.2  Alat dan Bahan
a.      Alat
·         Neraca analitik
·         Pengayak mesh no 10,12,14 san 16
·         Loyang
·         Beaker glass
·         Batang pengaduk
·         Gelas kimia
·         Moisture Balance
b.      Bahan
·         Paracetamol
·         Amprotab
·         Amylum Manihot
·         Laktosa
·         Mg Stearat
·         Talk

3.3  Analisis Formulasi
Formulasi A (pengikat amilum solani)
Fase Dalam 92%
1.      Paracetamol 350 mg
2.      Amprotab 10%
3.      Amilum Manihot 10%
4.      Laktosa q.s
Fase Luar 8%
1.      Mg Stearat 1%
2.      Talk 2%
3.      Amprotab 5%

3.4  Perhitungan
1.      Rencana Bobot Tablet            : 500 mg
2.      Dibuat Sebanyak                     : 400 Tablet
3.      Bobot Seluruh Tablet              : 500 x 400 = 200.000 mg = 200 gram

a.       Paracetamol           = 350 x 400
= 140.000 mg = 140 gram

b.      Amprotab 10%      = 10/100 x 200
= 20 gram

c.       Fasa Dalam           = 92/100 x 200
= 184 gram

d.      Amilum Manihot   = 1/3 x 184 = 61,3 gram
Setelah dikering    = 10% x 61,3
                                    = 6,13 gram

e.       Laktosa                 = 184- (140+20+6,13)
= 184-166,13
= 17,87 gram

f.       Mg stearat                         = 1/92 x 160.40
= 1.745 gram

g.      Talcum                  = 2/92 x 160.40
= 3.564 gram

h.      Amprotab              = 5/92 x 160.40
= 8.712 gram
Bobot total tablet = 160.40 + 1.745 + 3.564 + 8.721
348.69
= 0.500 gram
= 500 mg
3.5  Penimbangan


Fase Dalam
a.       Paracetamol     = 140 gram
b.      Amprotab        = 20 gram
c.       Amilum manihot = 6,13 gram
d.      Laktosa           = 17.87 gram
Fase Luar
a.       Mg stearat       = 1.745gram
b.      Talk                 = 3.564gram
c.       Amprotab        =8.712gram



3.6  Prosedur
3.6.1   Pembutatan larutan pengikat mucilago amilum 10%
Mucilago dibuat sejumlah 100 g
1.      Timbang gelas piala (1) + batang pengaduk
2.      Masukan dan timbang air ke dalam gelas kimia (1) sejumlah 2/3 MA dikurangi 20% panaskan air tersebut sampai mendidih
3.      Dalam gelas kimia lain (2), buat suspensi amilum, timbang amilum sejumlah 100 g, masukan ke dalam 20% dari 2/3 MA (54 ml) air, aduk
4.      Setelah air di gelas kimia (1) mendidih, tambahkan suspensi amilum dari gelas kimia (2) sambil terus diaduk sampai bening
5.      Air sisa 1/3 digunakan sebagian untuk membilas gelas kimia bekas suspensi amilum dan menambahkan pada gelas kimia (1) sampai diperoleh bobot total.

3.6.2   Granulasi basah hingga Tabletasi
Pengikat tambahan dengan cara basah :
1.      Siapkan alat dan bahan
2.      Timbang fase dalam :       
·         Parasetamol = 140 g
·         Amprotab = 20 g
·         Mucilago amilum = 6,13 g
·         Laktosa = 17,87 g
3.      Parasetamol, amprotab, dan laktosa dicampurkan sampai homogen
4.      Tambahkan mucilago amilum sedikit-sedikit sambil diaduk sampai terbentuk massa basah yang sesuai untuk dibuat granul (massa harus dapat dikepal namun dapat dipatahkan)
5.      Massa basah kemudian diayak dengan ayakan mesh 10 atau 12 (untuk tablet besar)
6.      Granul basah dikeringkan dalam oven dengan suhu 600 C sampai kandungan lembab kurang dari 3%
7.      Granul yang telah kering diayak kembali dengan ayakan mesh 14 atau 16 (untuk tablet besar)
8.      Granul kering kemudian ditimbang dan di evaluasi
9.      Timbang Fase luar :
·         Mg Stearat      =1,745 g
·           Talk               = 3,564 g
·         Amprotab        = 8,712 g
10.  Granul yang telah memenuhi syarat dapat dicampur dengan fasa luar (talk dan amprotab) aduk sekitar 10 menit hingga homogen kemudian tambahkan Mg stearat, aduk selama 2 menit
11.  Massa siap cetak di evaluasi kemudian ditabletasi dengan menggunakan punch diameter 13 mm dengan bobot yang telah ditentukan (dari hasil perolehan granul)
12.  Tablet dievaluasi menurut persyaratan yang berlaku.

3.6.3   Prosedur Evaluasi Granul
1.      Kecepatan Aliran
a.       Metode Corong
-          Sejumlah 30 g granul dimasukanke dalam corong flow tester
-          Corong digetarkan sampai seluruh granul mengalir keluar dari lubang corong
-          Baca waktu yang diperlukan untuk mengalirkan seluruh granul keluar dari corong
-          Kecepatan aliran dehitung dengan membagi bobot granul (30 g) dengan waktu yang diperlukan untuk melewati corong (g/detik). Aliran granul baik jika waktu yang diperlukan untuk mengalirkan 30 g granul ≤ 3 detik.
b.      Metode Sudut Istirahat
-          Timbang sejumlah granul, masukan ke dalam corong
-          Granul dibiarkan mengalir bebas dari lubang corong dan ditampung pada suatu bidang datar hingga timbunan granul tersebut membentuk kerucut.
-          Dari timbunan ini diukur sudut istirahat (sudut antara lereng granul dengan bidang datar)
c.       Kelembaban
-          Timbang granul 5 atau 10 g
-          Masukan dalam alat moisture analyzer, kemudian alat di tara
-          Panaskan granul pada suhu 60-700C sampai sekala pada alat tidak berubah
-          Baca kadar air yang tertera pada skala (%)Kadar air yang baik 1-2%
d.      Bobot Jenis/ Kerapatan
a)    BJ nyata
-          Timbang 30 g granul
-          Masukan ke dalam gelas ukur
-          Catat volumenya
b)      BJ mampat
-          Timbang 30 g granul
-          Masukan dalam gelas ukur (catat volumenya V0)
-          Gelas ukur diketuk sebanyah 10 dan 200 kali (catat volumenya V10 dan V200 )
c)    BJ sejati
-          Massa granul dibagi volme granul yang tidak termasuk pori granul
-          Timbang piknometer kosong (catat hasilnya)
-          Timbang piknometer dengan 1g granul dan paraffin cair (catat hasilnya)
-          Keluarkan paraffin dan bersihkan piknometer
-          Timbang piknometer yang sudah berisi 1g granul (catat hasilnya)
-          Timbang piknometer yang sudah berisi paraffin cair (catat hasilnya)
-          Lakukan perhiyungan dengan rumus :
d)   Kadar Pemampatan
-          Timbang 30 g granul
-          Masukan dalam gelas ukur (catat volumenya V0)
-          Gelas ukur diketuk sebanyah  200 kali (catat volumenyaV200 )
-          Hitung dengan rumus :
Kadar pemampatan ≤ 20% granul memenuhi syarat.
e)      Perbandingan Haussner
-          Timbang 30 g granul
-          Masukan dalam gelas ukur (catat volumenya)
-          Gelas ukur diketuk sebanyah 10 dan 200 kali (catat volumenya)
-          Hitung dengan rumus :
Granul memenuhi syarat jika angka Haussner = 1


f)       Persen Kompresibilitas (%K)
-          Timbang 30 g granul
-          Masukan ke dalam gelas ukur 100 ml
-          Catat volumenya
-          Gelas ukur diketuk sebanyah 200 kali (catat volumenya)

g)      Granulometri (distribusi ukuran partikel)
-          Timbang 30 g granul
-          Susun mesh dari mesh no 10, 12, 14, 16.
-          Letakan granul pada pengayak paling atas no 10.
-          Getarkan pengayak
-          Timbang granul yang tertahan pada tiap pengayak
-          Hitung persentase granul pada tiap-tiap pengayak

3.6.4   Prosedur Evaluasi Tablet
1.      Visual/Organoleptik
-          Ambil 10 tablet yang dihasilkan
-          Lalu diamati secara visual meliputi warna, bau, tekstur permukaan dan penampilan fisik.
2.      Sifat Fisika Kimia
a)      Keseragaman ukuran
-          Diambil secara acak 20 tablet
-          Diukur diameter dan  tebalnya menggunakan jangka sorong
-          Catat hasilnya (menurut FI III diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang 1 1/3 tebal tablet)
b)      Kekerasan
-          Dilakukan terhadap 20 tablet yang diambil secara acak
-          Kekerasan diukur berdasarkan luas prmukaan tablet dengan menggunakan beban yang dinyatakan dalam kg/cm2 (Hardness tester)
-          Ditentukan kekerasan rata-rata dan standar deviasinya (syarat : Tablet besar 7-10 kg/cm2, tablet kecil 4 kg/cm2)
c)      Fariabilitas
-          Dilakukan terhadap 20 tablet yang diambil secara acak
-          Dibersihkan satu per satu lalu ditimbang
-          Masukn semua tablet ke dalam alat, lalu putar sebanyak......kali putaran
-          Kemudian tablet dibersuhkan lagi dan ditimbang
-          Hitung dengan rumus
Syarat : Tablet yang baik memiliki fariabilitas ˂ 1%
d)     Keseragaman Bobot
-          Diambil 20 tablet secara acak
-          Timbang masing-masing tablet
-          Kemudian dihitung bobot rata-rata tiap tablet dan penyimpangan tablet terhadap bobot rata-rata. Tidak boleh ada 2 tablet yang masing-masing menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan pada kolom A, dan Tidak boleh ada satupun tablet yang masing-masing menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga pada kolom B

Bobot rata-rata
Penyimpangan bobot rata-rata (%)
A
B
˂ 25 mg
15
30
26 mg- 150 mg
10
20
151 mg- 300 mg
7,5
15
˃ 300 mg
5
10
                               Tabel 3.6.4 keseragaman bobot
e)      Uji Waktu Hancur (Desintegrasi Tester)
-          Bejana diisi dengan air 800 ml
-          Volume diatur pada kedudukan tertinggi, lempeng kasa tepat pada permukaan larutan dan pada kedudukan terendah mlut tabung tetap diatas permukaan. Suhu pelarut 370 C (suhu tubuh).
-          Masukan 5 tablet ke dalam masing-masing tabung lalu tutup masing-masing tabung dengan cincin tabung
-          Kemudian alat dinyalakan dan atur naik turun keranjang 30 kali tiap menit. Tablet hancur jika tidak ada bagian tablet yang tertinggal diatas kasa, kecuali fragmen-fragmen bahan pembantu.
-          Waktu hancur dicatat sejak pertama kali alat dinyalakan hingga tidak ada bagian tablet yang tertinggal diatas kasa.
Syarat waktu hancur tablet tidak bersalut adalah kurang dari 15 menit.
f)       Keseragaman kandungan
-          Diambil 20 tablet secara acak
-          Tablet digerus sampai halus menggunakan mortir dan stemper
-          Timbang sebanyak 50 mg
-          Masukan ke dalam labu ukur 100 ml dan larutkan dengan buffer
-          Kocok homogen
-          Pipet 500 mikron

-          Masukan ke dalam labu ukur 10 ml dan encerkan dengan buffer
-          Pipet kemudian masukan ke dalam kuvet, uji dengan spektrofotometer pada λ= 243,5 nm
-          Catat absorbansinya
3.7  Wadah dan Kemasan

    Isi Bersih : 50 Tablet

CEFAGESIK Tablet








Isi Bersih : 50 Tablet



CEFAGESIK Tablet
Isi Bersih : 50 Tablet



Dosis
Anak lebih dari 12 tahun: 3-4 kali sehari 1 tablet.


Penyimpanan
Simpan ditempat tertutup rapat dan terlindung dari cahaya




PT Kahuripan FARMA
Tasikmalaya-Indonesia




Diproduksi oleh :
PT Kahuripan FARMA
Tasikmalaya-Indonesia













Diproduksi oleh :
PT Kahuripan FARMA
Tasikmalaya-Indonesia


    Isi Bersih : 50 Tablet

CEFAGESIK Tablet








Isi Bersih : 50 Tablet



Komposisi :
Paracetamol...........350 mg

Indikas
Digunakan sebagai obat penurun panas dan digunakan sebagi obat penghilang rasa sakit dari segala jenis seperti sakit kepala, sakit gigi Sakit kepala, dismenore dll.

Dosis
Anak lebih dari 12 tahun: 3-4 kali sehari 1 tablet.
7-12 tahun : 3-4 kali sehari ½-1 tablet.

Reg.No.: DBL1700200110A1
No Batch : 702001
Exp date : 10 2020
HET : Rp. 45.000,-



 








                                                                                              
                                                                             
v

                                                       



CEFAGESIK Tablet
Isi Bersih : 50 Tablet

 




                                                                                                    

Gambar 3.7 Wadah Dan Kemasan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Hasil Pengamatan Evaluasi Granul
1.      Kecepatan Aliran
a.      Metode Corong
Aliran granul 4 detik kurang baik
Kesimpulan : aliran granul kurang baik
b.      Metode Sudut Istirahat
D   : 11,5 cm      
r     : 5,75 cm
H   : 2 cm
Sudut istirahat       ɒ = arc tan H/r
                                 = arc tan 2/5,75
                                 = arc tan 0,348
                                 = 19,18o
Kesimpulan : granul sangat mudah mengalir
2.      Kelembaban
Alat     : Moisture balance
Hasil    : 1,10 %
Kesimpulan : kadar air baik (persyaratan 1-2 %)
3.      Bobot Jenis / Kerapatan
a.     

ρ  = w/v
   = 30/18
   = 0,370 g/ml
BJ Nyata
W  : 30 gram
V   : 81 ml

b.     

ρ  = W/V200
   = 30/77
   = 0,389 g/ml

ρ  = W/V10
   = 30/80
   = 0,375 g/ml
Bj Mampat
W              : 30 gram
V10           : 80 ml
V200         : 77 ml
c.       BJ sejati
Pikno kosong (a)                                                   : 9,72 gram
Pikno + 1g granul (b)                                            : 10,73 gram
Pikno + 1g granul + cairan pendispersi (c)            : 18,21 gram
Pikno + paraffin cair (d)                                       : 18,06 gram

BJ Sejati    = (b – a) x Bj cairan pendispersi
                              (b + d) – (a + c)
                   = (10,73 – 9,72) x 0,834
                      (10,73 + 18,06) – (9,72 + 18,21)
                   = (1,01) x (0,834)
                     (28,79) – (27,93)
                  = 0,842
                      0,86
                  = 0,97
d.      Kadar Pemampatan
Kp = Vo – V200   x  100%
               Vo
      = 81 – 77   x  100%   
             81
      =  4     x  100%
          81
      = 4,9 %
Kesimpulan : granul memenuhi syarat karena ≤ 20%
e.       Perbandingan Haussner
Angka Haussner = BJ setelah mampat
                              BJ sebelum mampat
                            = 0,389
                              0,370
                            = 1,051 
Kesimpulan : granul memenuhi syarat karena ≈ 1
f.       Persen kompresibilitas  (%K)
% K = BJ mampat – BJ nyata   x 100%
          BJ mampat
      = 0,389 – 0,370   X 100%
              0,389
      = 0,019   X 100%
         0,389
      = 4,8 %
Kesimpulan : dapat dikatakan aliran sangat baik
4.      Granulometri
·         Yang tertahan pada mesh 10 = 0,7 gram
0,7/30 x 100%       = 2,33%
·         Yang melewati mesh 10    = 2,24 gram
2,24/30 x 100% = 7,46%
·         Yang melewati mesh 12    = 4,10
4,10/30 x 100% = 13,68%
·         Yang melewati mesh 14    = 4,28
4,28/30 x 100%  = 14,27%
·         Yang melewati mesh 16    = 18,68
18,68/30 x 100%  = 62,26%
                        Total    = 2,33% + 7,46% + 13,68% + 14,27% + 62,26%
                                      = 100%
Kesimpulan : ukuran granul tidak terdistribusi merata.
4.2  Hasil Pengamatan Evaluasi Tablet
1.      Visual/Organoleptik
·         Bentuk : Bulat
·         Bau      : Tidak berbau
·         Warna  : Putih
·         Rasa    : Pahit

2.      Sifat Fisika Kimia
Tablet ke
Diameter
(mm)
Kekerasan
(kg/cm²)
Tebal
(mm)
Keseragaman bobot (mg)
1
10,1
6
4
510
2
10,3
5
4
500
3
10,1
8
4
510
4
10,1
2
4
570
5
10,1
6
4
630
6
10,1
7
3,2
610
7
10,1
4
4
520
8
10,1
6
4,8
620
9
10,1
6
4
510
10
10,2
6
4,6
540
11
10,1
9
4
510
12
10,2
8
4,8
550
13
10,1
4
3,1
510
14
10,1
8
4,4
560
15
10,5
7
4
530
16
10,1
9
4
570
17
10,1
6
4
560
18
10,1
5
4
520
19
10,1
3
4
490
20
10,2
4
4,9
550
202.9
119
81,8
10870
Rata2
10,145
5.95
4,09
543.5
Tabel 4.2 Sifat Fisika Kimia
Ø  Friabilitas
a   : 10,88 g
b   : 10,72
            F = a – b   X 100%
                     a
               =10,88 – 10,72   X 100%
                        10,88
              = 1,47%
Kesimpulan : friabilitas tidak baik karena > 1%
Ø  Keseragaman Ukuran
Rata-rata diameter      = 10,145 mm
Rata-rata tebal             = 4,09 mm
Perhitungan                  = 4,09 x 3
                                     = 12,27
Kesimpulan : Tablet memenuhi persyaratan, karena diameter tablet < 12,27 (tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 tebal tablet).
Ø  Keseragaman Bobot
Rata-rata Tablet = 540 mg
T0   =   rata-rata tablet – X        X 100%
               rata-rata tablet



T1   =    540 – 510      X 100%
                   540
        = 5,5 %

T2      =   540 – 500     X 100%
                    540
           = 7,4 %




T3      =   540 – 510     X 100%
                   540
           = 5,5 %



T4      =   540 – 570    X 100%
                     540
           = 5,5 %



T5      =   540 – 630    X 100%
                     540
           = 16,6 %



T6      =   540 – 610    X 100%
                     540
           = 12,9 %



T7      =   540 – 520     X 100%
                     540
           = 3,7 %



T8      =  540 – 620     X 100%
                     540
           = 14,81 %



T9      =   540 – 510     X 100%
                     540
           = 5,5 %





T110  =   540 – 540     X 100%
                    540
           = 0 %



T11    =   540 – 510     X 100%
                     540
           = 5,5 %



T12    =   540 – 550    X 100%
                     540
           = 1,8 %



T13    =   540 – 510     X 100%
                     540
           = 5,5 %



T14    =   540 – 560     X 100%
                     540
           = 3,7 %

T15    =  540 – 530      X 100%
                    540
           = 1,8 %

T16    =   540 – 570      X 100%
                     540
           = 5,5 %

T17      =   540 – 560      X 100%
                    540
           = 3,7 %


T18      =   540 – 520      X 100%
                     540
           = 3,7 %



T19      =   540 – 490     X 100%
                     540
           = 9,2 %



T20      =   540 – 550     X 100%
                     540
           = 1,8 %


Bobot rata – rata
Penyimpanan bobot rata – rata dalam %
A
B
          < 25 mg
15
30
      26 mg -150 mg
10
20
             151 mg - 300 mg
75
15
                    >300 mg
5
10

Kesimpulan :Tidak memenuhi keseragaman bobot karena terdapat lebih dari 2 tablet yang menyimpang dari kolom A, dan terdapat tablet yang menyimpang dari kolom B.
3.      Uji Waktu Hancur
Alat : Disintegration tester
Hasil : waktu hancur 5 tablet adalah 2,38 menit
4. Uji kadar zat aktif dalam tablet
Absorbansi ꞊ 0,655
Y ꞊ bx + a
Y ꞊ 0,0628x + 0,1768
0,655 ꞊ 0,0628x + 0,1768
0,655 – 0,1768 ꞊ 0,0628x
0,4782 ꞊ 0,0628x
X ꞊
X ꞊ 7,614 ppm
X ꞊ 7,614 x 20
X ꞊ 152,28 ppm
X ꞊ 152,28 mg/1000 ml
X ꞊ 0,152 mg/ml
4.3  Pembahasan       
Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan tablet parasetamol dengan metode granulasi basah dan kemudian dilakukan evaluasi granul dan tablet yang telah dicetak. Parasetamol memiliki sifat kompresibiltas dan fluiditas yang kurang baik, sehingga menimbulkan kesulitan sewaktu pengempaan. Untuk obat dengan sifat kompatibilitas yang kurang baik dalam dosis besar paling tepat jika digunakan metode granulasi basah, karena dengan metode granulasi basah tidak memerlukan banyak bahan tambahan yang menyebabkan bobot terlalu besar, selain itu sifat parasetamol yang tahan terhadap panas dan kelembaban selama proses granulasi.
Prinsip dari metode granulasi basah adalah membasahi masa tablet dengan larutan pengikat tertentu sampai mendapat tingkat kebasahan tertentu pula, kemudian masa basah tersebut digranulasi. Langkah-langkah yang diperlukan dalam pembuatan tablet dengan metode ini adalah menimbang dan mencampur bahan-bahan, pembuatan granulasi basah, [engayakan adonan lembab menjadi granul, pengeringan, pengayakan kering, pencampuran bahan pelicin, pembuatan tablet dengan kompresi.
Prosedur dalam pembuatan tablet metode granulasi basah ini dibagi menjadi dua tahap, diawali dengan pembuatan fasa dalam yang berisikan pula zat aktif selanjutnya dicampurkan fasa dalam dengan fasa luar. Setelah dilakukan pencampuran, serbuk digranulasi, dicetak, dan dievaluasi baik granulnya maupun hasil cetakannya.
Fasa dalam berisi zat-zat yang digunakan untuk pembuatan granul yaitu parasetamol, amprotab, mucilago amili (amilum manihot), dan laktosa. Laktosa merupakan zat pengisi tablet supaya dapat membentuk massa yang kompak dan pas untuk dicetak dengan ukuran tertentu. Sedangkan fasa luar adalah zat-zat yang dimasukan setelah serbuk menjadi granul dan akan dikempa menjadi tablet. Fasa luarnya terdiri dari amprotab (sebagai penghancur agar partikel terdistribusi dengan baik), Mg Stearat sebagain lubrikan dan talk sebagai glidan.
Bahan-bahan pada fase dalam dibuat granul terlebih dahulu, setelah terbentuk granul maka dilakukan evaluasi terhadap granul yang telah dibuat sebelumnya, evaluasi terhadap granul ini berfungsi sebagai parameter dalam pembatan tablet yang baik dengan mengetahui sifat fisik granul yang akan dikempa, sifat-sifat fisik granul yang berkaitan dengan penabletan antara lain kecepatan aliran granul, kelembaban granul, kerapatan atau bobot jenis granul, dan distribusi ukuran partikel. Granul yang memiliki sifat fisik baik yaitu yang mudah mengalir dengan baik dan mudah dikempa (Kompresibilitas baik). Untuk itu maka pada praktikum kali ini dilakukan beberapa uji evaluasi yang biasa digunakan sebagai patokan untuk mengatahui sifat fisik alir granul, yaitu : waktu alir, sudut istirahat, kelembaban, kerapatan, dan distribusi ukuran partikel granul.
Kecepatan aliran granul dengan metode corong, waktu yang diperlukan untuk mengalir sejumlah granul atau serbuk pada alat yang dipakai (corong). Berdasarkan hasil pengujian didapat waktu alir granul 4 detik/30 gram granul, yang menandakan aliran granul kurang baik karena waktu yang diperlukan tidak memenuhi syarat yang seharusnya untuk mengalirkan granul 100g < 10 detik, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk 30 gram granul < 3 detik.
Kecepatan alir dengan menggunakan metode sudut istirahat, yaitu sudut tetap yang terjadi antara timbunan partikel berbentuk kerucut dengan bidang horizontal. Granul yang digunakan sebanyak 30 gram, berdasarkan hasil pengujian didapat diameter (d) 11,5 cm, jari-jari (r) 5,75 cm dan tinngi (h) 2 cm. Dengan melakukan perhitungan hasil sudut yang di dapat 19,18ᵒ, menandakan bahwa granul sangat  mudah mengalir karena niali yang didapat < 30ᵒ.
Kelembaban, pada uji ini menggunakan alat Moisture Balance. Granul yang digunakan sebanyak 3 gram, hasil yang didapat adalah 1,10%, yang menandakan bahwa granul memiliki kadar air yang baik, karena kadar air granul yang baik adalah 1-2%.
Bobot jenis/kerapatan, pertama yang dilakukan adalah BJ nyata. Granul yang digunakan sebanyak 30 gram. Berdasarkan hasil pengujian didapat BJ nyata granul adalah 0,370 g/ml. Kemudian uji BJ mampat yang merupakan penurunan volume sejumlah granul akibat hentakan/ketukan. Pada uji ini granul yang digunakan sebanyak 30 gram kemudian dilakukan pengetukan didalam gelas ukur dengan jumlah ketukan sebanyak 10 kali dan 200 kali. Pada 10 kali ketukan hasil yang didapat 0,375 g/ml sedangkan pada 200 kali ketukan hasil yang didapat 0,389 g/ml. Selanjutnya uji BJ sejati dengan menggunakan alat piknometer dan cairan pendispersi (paraffin cair). Berdasarkan hasil pengujian dan hasil perhitungan yang didapat bobot jenis sejati granul adalah 2,631 g/ml. Pada uji bobot jenis atau kerapatan ini kita bisa mengetahui kadar pemampatan, perbandingan haussner dan persen kompresibilitas (%K) dari granul sehingga dapat diketahui sifat alirnya dan kemudahannya untuk dikempa. Berdasarkan hasil pengujian didapat hasil kadar pemampatan adalah 4,9% yang menandakan granul memenuhi syarat, karena syarat kadar pemampatan yang baik adalah < 20%. Kemudian hasil dari perbandingan haussner didapatkan hasilnya adalah 1,0 yang menandakan bahwa granul memenuhi syarat, karena syarat angka hausner ≈ 1. Kemudian persen kompresibilitas, berdasarkan hasil yang didapat persen kompresibilitas granul adalah 4,8% yang menandakan bahwa granul memiliki aliran yang sangat baik, karena syarat dari persen kompresibilitas yang sangat baik adalah 5 – 15%. Dapat disimpulkan bahwa granul memenuhi syarat dengan hasil yang didapatkan badwa granul memiliki aliran yang sangat baik.
Distribusi ukuran partikel, merupakan evaluasi untuk mengetahui penyebaran ukuran granul yang diperoleh. Evaluasi distribusi ukuran granul menggunakan alat berupa ayakan bertingkat yang memiliki diameter berbeda-beda, ayakan yang digunakan bernomor 10,12,14 dan 16. Berdasarkan hasil distribusi ukuran partikel granul didapat :
·         Yang tertahan pada mesh 10   = 2,33%
·         Yang melewati mesh 10              = 7,46%
·         Yang melewati mesh 12              = 13,67%
·         Yang melewati mesh 14              = 14,27%
·         Yang melewati mesh 16              = 62,26%
Ø  Dengan total 100%, yang menandakan granul tidak memiliki keseragaman ukuran
Setelah dilakukan evaluasi granul, kemudian dilakuan pencampuran granul dengan fasa luar yaitu dengan talk, amprotab dan Mg stearat. Setelah semuanya tercampur kemudian dilakukan pencetakan tablet. Pada proses pencetakan, berat dan kekerasan tablet yang akan dicetak diperhitungkan dengan mengatur punch atas dan punch bawah dari alat pencetak. Untuk menentukan berat tablet yang akan dicetak, diatur dengan punch bawah. Sedangkan untuk mengatur kekerasan tablet, digunakan punch atas. Volume bahan yang diisikan yang mungkin masuk ke dalam cetakan harus disesuaikan dengan beberapa tablet yang telah lebih dahulu dicetak. Penyesuaian ini diperlukan karena formula tablet tergantung pada berat tablet yang akan dibuat.
Selama pencetakan, beberapa tablet yang dicetak diambil untuk pengontrolan berat dan kekerasan tablet dan kekerasan tablet. Jika berat atau kekerasannya berada diluar rentang yang diinginkan, alat pencetak dapat diatur kembali. Setelah seluruh serbuk dicetak, kemudian dilakukan evaluasi tablet.
Evaluasi yang dilakukan pada tablet pertama yaitu organoleptik meliputi pengamatan bentuk dari tablet yaitu bulat gepeng, warna putih, tidak berbau dan rasa pahit. Kemudian dilakukan evaluasi keseragaman ukuran yang merupakan perbandingan diameter dan tebal. Hasil yang diperoleh memenuhi persyaratan karena rata-rata diameter yang dihasilkan yaitu 10,1275 mm dan tidak kurang dari 1 1/3 rata-rata tebal tablet yaitu 0,11375 mm.
Pengujian keseragaman bobot dilakukan dengan menimbang 20 tablet dengan menghitung bobot rata-rata tablet yaitu 0,540 gram atau 540 mg. Selain itu persentase penyimpangan bobot tablet terhadap bobot rata-rata tablet harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Depkes RI (1979) yaitu tidak boleh lebih dari dua tablet yang menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan dalam kolom A dan tidak boleh satu tablet pun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih dari harga dalam kolom B.


Bobot rata – rata
Penyimpanan bobot rata – rata dalam %
A
B
          < 25 mg
15
30
      26 mg -150 mg
10
20
             151 mg - 300 mg
75
15
                    >300 mg
5
10

Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan keseragaman bobot dari tablet kurang baik, karena terdapat lebih dari dua tablet yang lebih dari 5% yaitu pada tablet ke 1,2,3,9,13 dan 19.                    
Selanjutnya dilakukan pengujian kekerasan dengan menggunakan hardness tester terhadap 20 tablet yang diambil secara acak dimana pengujian kekerasan berdasarkan luas permukaan tablet dengan menggunakan beban yang dinyatakan dalam kg/cm². Uji kekerasan dimaksudkan agar tablet cukup keras untuk tahan pecah dan tahan terhadap goncangan pada saat pengemasan dan proses distribusi. Akan tetapi harus cukup lunak untuk melarut dan akan menghancur sempurna begitu digunakan konsumen atau dapat dipatahkan diantara jari-jari bila tablet perlu dibagi untuk pemakaiannya. Hasil yang diperoleh yaitu rata-rata kekerasan tablet adalah 5,95 kg/cm², hal ini menunjukkan kekerasan tablet tidak cukup baik, karena syarat tablet besar yang baik yaitu apabila mempunyai kekerasan dalam rentang 7-10 kg/cm².
Pengujian friabilitas dilakukan dengan menggunakan 20 tablet dengan parameter yang diuji adalah kerapuhan tablet terhadap gesekan atau bantingan selama waktu tertentu. Untuk mengetahui ketahanan tablet terhadap benturan dan gesekan, dilakukan uji ini. Hal ini sangat penting terutama pada saat pengemasan dan pendistribusian. Hasil yang diperoleh adalah persen friabilitas sebesar 1,47%, hal ini menunjukkan tablet memiliki kerapuhan yang tidak baik, karena syarat tablet yang baik apabila memiliki friabilitas < 1%.
Pengujian waktu hancur prinsipnya adalah menentukan waktu yang diperlukan suatu tablet untuk hancur dengan cara menempatkan tablet pada alat penentuan waktu hancur yang kondisinya sesuai dengan keadaan in vivo dan persyaratan monografi. Hasil yang diperoleh tablet memiliki waktu hancur 2,38 menit. Hal ini menunjukkan tablet memiliki waktu hancur yang baik, karena menurut persyaratan waktu yang diperlukanj untuk menghancurkan 6 tablet tidak lebih dari 15 menit.
Selanjutnya yaitu dilakukan uji kadar zat aktif dengan menggunakan spektrofotometri  uv-vis. Uji ini dilakukan untuk mengetahui kadar zat aktif dari tablet.  Unutk uji kadar zat aktif dilakukan dengan menimbang 0,05 gram tablet yang telah di gerus kemudian dilarutkan dalam larutan buffer 100 ml dan dilakukan pengenceran dengan memipet sebanyak 500 mikron add larutan buffer 10 ml. Larutan yang terbentuk kemudian dimasukan kedalam kuvet untuk selanjutnya di lihat nilai absorbansinya dengan spektrofotometer, dapat diketahui nilai absorbansi yang terbaca yaitu 0,655 sehingga dihasilkan nilai dari kadar zat aktif sebesar 0,152 mg/ml.
Uji-uji yang dilakukan terhadap tablet berguna untuk pengawasan mutu. Hal ini dilakukan selama proses produksi secara periodik karena akan melibatkan biaya yang sangat besar apabila pada akhir produksi ternyata menghasilkan tablet yang tidak memenuhi persyaratan.
            Syarat-syarat tablet yang baik adalah sebagai berikut :
·         Tablet harus kuat, tahan terhadap goncangan dan tahan abrasi pada saat pengemasan dan distribusi.
·         Memiliki keseragaman bobot dan kandungan bobot.
·         Tablet dapat terbioavailable.
·         Memiliki karakteristik warna, bau, dan rasa sebagai identitas produk.
·         Memiliki kestabilan yang baik dan tereffikasi.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1  Kesimpulan
·         Evaluasi granul yang dilakukan diantaranya adalah : kecepatan aliran granul, kelembaban granul, kerapatan atau bobot jenis granul, dan distribusi ukuran partikel. Adapun evaluasi tablet yang dilakukan diantaranya yaitu uji organoleptik, keseragaman ukuran, keseragaman bobot, uji friabilitas, uji kekerasan tablet dam uji waktu hancur.
·         Berdasarkan uji evaluasi granul dapat disimpulkan granul memiliki aliran yang sangat baik dapat dilihat dari uji sudut istirahat, kadar pemampatan, perbandingan haussner dan persen kompresibilitas (%K) tetapi pada petode corong granul tidak memenuhi syarat karena hasil yang didapatkan aliran granul 4 detik/30 gram. Granul memiliki kadar air yang baik dengan hasil 1,10%, dan keseragaman ukuran tidak memenuhi syarat karena ukuran granul yang dihasilkan bervariasi.
·         Berdasarkan uji evaluasi tablet dapat disimpulkan tablet parasetamol yang dibuat dengan pengikat mucilago amili memiliki warna putih, tidak berbau, bentuk bulat dan rasa yang pahit. Dari keseluruhan uji yang dilakukan terhadap tablet dapat disimpulkan tablet memiliki  keseragaman bobot, kekerasan, friabilitas  yang kurang baik, tetapi dilihat dari keseragaman ukuran tablet memiliki keseragaman ukuran yang baik. Pada uji kadar dihasilkan nilai sebesar 0,152 mg/ml. 

5.2  Saran
·         Dalam proses pembuatan tablet membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai agar praktikan dapat melakukan praktikum dengan baik.



DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. 2004. Ilmu Meracik Obat. Jakarta: Gadjah Mada University Press
Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi Keempat. Jakarta : UI-Press
Departemen Kesehatan RI. 1994. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.
Depkes RI.1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan RI

Voigt, T. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi Edisi V. Universitas Gadjah Mada Perss : Yogyakarta.









  








 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar